SEMARANG – Tim dokter akhirnya memilih Dewi Farida (37), menjadi pendonor hati bagi anaknya, Bilqis Anindya Passa (17 bulan), pengidap kelainan saluran empedu tidak terbentuk (atresia bilier).
Namun, tim dokter RSUP Dr Kariadi, Semarang,yang menangani operasi cangkok hati Bilqis masih mewaspadai hasil pemeriksaan terhadap kandungan Epstein-Barr virus (EBV) di dalam tubuh pasien dan pendonor.
Pemeriksaan kandungan EBV harus dilakukan di Amerika Serikat (AS). “Virus tersebut dapat memorakporandakan kondisi pasien setelah menjalani operasi cangkok hati.
Untuk itu, harus dipastikan darah pasien dan pendonor tidak mengandung virus tersebut dan kalau ada harus disembuhkan terlebih dulu,” kata Prof DR dr AG Soemantri, penggagas tim cangkok hati, di Semarang kemarin.
Pakar darah tersebut mengungkapkan, tim dokter sudah mengirimkan sampel darah pasien dan pendonor Rabu (3/2) pekan lalu. Tim dokter kini masih menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium medis di AS.
Menurut Soemantri, proses pemeriksaan terhadap ibunda Bilqis secara keseluruhan belum selesai. “Dan kemungkinan besar dia (Dewi) positif sebagai pendonor,” ujarnya.
Tim dokter memantau pemeriksaan EBV melalui telepon. Jika negatif mengandung virus tersebut, maka operasi cangkok hati dapat segera dilaksanakan. Terkait adanya perbedaan golongan darah yang dimiliki Bilqis dan ibunya, tim medis telah menyiapkan obato-batan untuk mengantisipasi risiko penolakan.
Obat itu akan mempercepat pembiakan sel hati yang telah dicangkokkan. Dengan obat itu, maka tiap detik akan terbentuk sel baru.
“Pengonsumsian obat itu akan menjadikan efek dalam waktu satu minggu sudah terbentuk liver baru. Obat itu akan mempercepat proses pembentukan hati pada resipien (penerima),” tambah Soemantri yang juga dikenal sebagai konsultan hematologi dan onkologi.
Pendonor dari orang tua kandung, terutama ibu,dinilai paling tepat karena dialah yang mengandung anaknya selama sembilan bulan. Terlebih seorang ibu tentu telah melewati berbagai proses penyesuaian dengan kondisi bayinya. “Ibu juga mempunyai semangat yang tinggi dan lebih memahami kondisi psikologis anak,”terangnya.
Anggota tim dokter lainnya, dr Hirlan SpPD KGEH, menambahkan, perbedaan golongan darah antara Bilqis dengan ibunya tidaklah terlalu besar. Ibunya memiliki golongan darah A, sedangkan Bilqis mempunyai golongan darah AB.
“Secara teori, penggabungan golongan darah A dan AB hanya memiliki risiko penolakan sekitar separuh. Padahal, golongan darah merupakan salah satu pertimbangan untuk menjadi pendonor, selain kondisi kesehatan dan kecocokan jaringan,”ujarnya.
Dia mengakui, tim dokter sempat khawatir bahwa perbedaan golongan darah itu akan memengaruhi keberhasilan operasi. Namun setelah dilakukan berbagai pertimbangan, tim medis memutuskan perbedaan golongan darah tersebut dapat diatasi dengan obat-obatan.
“Risiko penolakan akibat perbedaan golongan darah dalam operasi cangkok hati tergolong rendah dibandingkan dengan operasi lain, misalnya cangkok ginjal. Kalau cangkok ginjal, kami yakin hal itu tidak mungkin dilakukan,”lanjut Hirlan.
Anggota tim cangkok hati lainnya, Dr Hartantyo SpA (K), menjelaskan, pantauan tim medis hingga Senin (8/2) memperlihatkan kondisi kulit Bilqis tetap kuning. Adapun ukuran livernya, kalau diukur dari batas tulang iga paling bawah, yaitu sepanjang 4 cm.
”Dalam pemeriksaan rutin juga diketahui terjadi pembesaran limpa 2,5 cm di bawah tulang rusuk kiri yang terbawah. Ada juga gambaran- gambaran pembuluh darah kecil-kecil berwarna biru kehijauan dan lingkar perut kembali seperti semula, mengecil dari 52 cm menjadi 51 cm,” papar Hartantyo.
Adapun hasil tes laboratorium di Semarang, lanjutnya, sama dengan hasil tes di Jakarta yang menunjukkan bahwa Bilqis mencapai tahap akhir pada penyakit yang diidapnya. "Berarti, harus segera dioperasi. Oleh sebab itu, tim dokter harus segera mengumpulkan data yang diperlukan dan didiskusikan,” tegasnya.
Diketahui, tim dokter sebelumnya mengatakan operasi cangkok hati terhadap Bilqis terkendala perbedaan golongan darah antara balita tersebut dengan kedua orangtuanya. Bilqis pun membutuhkan donor yang kemungkinan dari pihak selain orang tuanya.
Empati masyarakat langsung muncul dengan adanya delapan orang yang menyatakan bersedia mendonorkan hatinya untuk Bilqis. Namun tim dokter tetap mengupayakan pendonor dari salah satu orang tua Bilqis.
Ibunda Bilqis, Dewi Farida, mengungkapkan kegembiraannya terpilih menjadi pendonor hati bagi anak keduanya.“Saya siap dan senang bila terpilih oleh tim dokter menjadi pendonor bagi Bilqis,” ungkapnya terharu.
Dia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berupaya untuk kesembuhan putri tercintanya. “Keluarga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang memberikan dukungan, baik doa, materiil, maupun prasarana, selama Bilqis dirawat,”ujarnya.
(Dadan Muhammad Ramdan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.