getting time...

Gunung Curug Retak, 60 KK Diungsikan

Selasa, 16 Februari 2010 18:48 wib
Ilustrasi pengungsian.(foto:dok SI)
Ilustrasi pengungsian.(foto:dok SI)

GARUT – Sebanyak 60 Kepala Keluarga (KK) warga Kampung Cisaat Desa Tanjungkarya, Kecamatan Samarang Garut, diungsikan ke tempat yang aman setelah tempat tinggal mereka terancam longsor, akibat Gunung Curug terjadi retak dan mengeluarkan mata air hingga terjadi longsor dengan ketinggian 700 meter.
 
Selain mengacam puluhan rumah penduduk, longsor juga menyapu 25 hektare lahan pertanian terkubur oleh material longsoran dari Gunung Curug. Sedangkan, siswa sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang berlokasi di Kampung Cisaat terpaksa diliburkan, karena khawatir terjadi longsor susulan.
 
Ratusan warga tersebut diungsikan mulai Selasa ini. Mereka, diamankan sementara di Gor Awiligar Desa Tanjungkarya yang tidak Jauh dari tempat tinggal mereka.
Camat Samarang Rusmanah mengatakan, retaknya Gunung Curug terjadi sekira pukul 08.00 pagi Selasa, (16/2) kemarin, setelah diguyur hujan deras terus-menerus dalam beberapa terakhir ini melanda Garut.
 
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, untuk mengantispasi terjadinya longsor yang dikhawatirkan bisa memakan korban. Pasalnya, material lumpur tanah dari Gunung Curug yang retak, setinggi 700 meter telah menyapu lahan pertanian milik warga.
 
"Ada beberapa bukit yang mengelilingi kampung tersebut juga mengalami pergeseran hingga 20 sentimeter. tuturnya kepada wartawan, Selasa (16/2/2010).
 
Kalau warga dipaksakan tetap tinggal di lokasi retakan, Kata Rusmanah, dikhawatirkan suatu saat rumah-rumah Itu akan ambrol dan terbawa tebing. Selain itu, saat ini PBP Satkorlak Kabupaten Garut satu regu telah disiagakan selama 24 Jam di lokasi pengungsian untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan.
 
"Kampung ini kami kategorikan dalam status siaga satu, kita menyiapkan regu anggota tim reaksi cepat di Kecamatan Samarang. Ini semua dengan antisipasi hal-hal yang tak diinginkan," tuturnya,
 
Kabag Informatika Setda Garut Dikdik Hendrjaya mengatakan, upaya pengungsian dipilih karena permukiman mereka terancam longsor susulan. Evakuasi warga yang kampungnya terancam longsor itu setelah pihaknya melihat kondisi tanah yang membahayakan warga setempat.
 
"Kami khawatir terjadi longsor, akhirnya warga bersama ratusan warga lainnya memilih mengungsi ke GOR yang aman di sekitar kampung di desa yang sama,” katanya.
 
Kendati suasana di Gunung Curug kini cerah, namun masyarakat diminta tetap waspada dan siaga demi menghindari ancaman longsoran. Karena mata air yang muncul dari retakan akan menyemburkan lumpur tanah.
 
“Meski kondisi tidak hujan, kita tetap waspada karena longsor susulan bisa terjadi. Masyarakat harus tetap waspada," pungkasnya.

(Dede Ibin Muhibbin/Koran SI/fit)