getting time...

SBY Siap-Siap "Menjomblo"

Lamtiur Kristin Natalia Malau - Okezone
Rabu, 24 Februari 2010 09:56 wib
Presiden SBY (Foto: daylife)
Presiden SBY (Foto: daylife)

JAKARTA - Jika Boediono nantinya terbukti bersalah secara hukum, maka dia terancam lengser dari kursi Wakil Presiden. Lantas, siapa yang akan menjadi pendamping Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)?
 
Menurut pengamat politik LIPI Siti Zuhro, Presiden SBY memang bisa saja kehilangan wakilnya. Tapi tidak berarti SBY akan dengan mudah mencari pengganti Boediono.
 
"SBY bukan (tipe) orang yang seperti itu," jelasnya saat berbincang dengan okezone, Rabu (24/2/2010).
 
Namun tidak demikian dengan Sri Mulyani. Menurut Siti, sebagai menteri, Sri Mulyani lebih mudah dicopot dan dicari penggantinya.
 
Berikut petikan wawancara okezone dengan Siti Zuhro terkait nasib Boediono dan Sri Mulyani, termasuk soal nasib sejumlah parpol dalam koalisi SBY:
 
 
Setelah namanya disebut oleh Fraksi PDIP, Golkar, PKS, dan Hanura, dalam Pansus Hak Angket Bank Century, bagaimana nasib Boediono dan Sri Mulyani?
 
Ini kan ranah hukum, bukan keputusan politik. Ini harus mendapat penguatan dan argumentasi.
 
Kalau memang diuji secara hukum betul bersalah, tentu harus ada pergantian dan diambil tindakan tegas, tidak ada kompromi. Ini pelajaran bahwa kebijakan publik tidak bisa dipermainkan.
 
 
Berarti Boediono dan Sri Mulyani lengser?
 
Kalau secara hukum sudah dibuktikan sejauh itu kesalahannya, Boediono akan dihukum. Sri Mulyani lebih mudah karena hanya menteri.
 
 
Kalau Boediono dicopot, siapa pasangan SBY di pemerintahan?
 
Kita kan pernah tidak punya wapres, itu waktu zaman Pak Habibie. Sebab yang menjalankan pemerintahan sebenarnya kan pembantu. Pembantu itu ya menteri, dirjen-dirjen.
 
Contohnya, M Maruf, mantan Mendagri. Kita sampai teriak-teriak selama 2,5 tahun, baru akhirnya dicari penggantinya oleh SBY. SBY bukan orangnya seperti itu.
 
Pak Amien itu kan kelihatan betul.
 
 
Kelihatan mau menggantikan Boediono?
 
Bukan. PAN, PKS, dan Golkar, kan kelihatan banget niat menyiapkan siapa yang mau dipasangkan dengan SBY waktu mau pilpres dulu.
 
Jadi, SBY tidak masalah lah kalau harus sendiri.
 
 
Bagaimana dengan Golkar dan PKS setelah menyebut nama Boediono dan Sri Mulyani?
 
Golkar dan PKS ada dalam dua konteks, konteks koalisi dan konteks pansus. Dalam konteks real politik, tidak bisa ada pemisahan antara kiprah di pansus dan di koalisi.
 
Ketika itu tidak boleh dipisahkan, pasti apa yang dilakukan dua partai akan berdampak pada keikutsertaan dalam koalisi. Tidak tertutup kemungkinan kalau dianggap duri dalam daging, dia akan direview.
 
Tidak hanya menjadi duri dalam daging, tapi dikhawatirkan akan meracuni partai yang lain kalau dipelihara.
 
Kalau direview oleh SBY, tidak tertutup kemungkinan posisi Golkar dipertanyakan. Itu tergantung seberapa besar ancaman kepada koalisi.
 
 
Peluang Golkar ditendang dari Pansus?
 
Tergantung level dari ancaman, sejauh mana Golkar dan PKS mengancam soliditas koalisi dan menciptakan shaking pemerintahan SBY.
 
 
Kalau nasib PKS?
 
Dibandingkan PKS, partai leading lebih berat ke Golkar. Dari ucapan, merasa terganggu, maka lebih memperhitungkan Golkar. Kita jangan lupa sejarah bagaimana Golkar sebagai pendatang terakhir di koalisi SBY.
 
 
Kalau PKS ditendang dari koalisi, apa SBY akan cari penggantinya dari oposisi?
 
Kayaknya Gerindra bisa menggantikan PKS. Soal jumlah suara kecil, nggak apa-apa. PKS mungkin dianggap duri dalam daging. Apalagi akhir-akhir ini kelihatan makin beringas.

(lam)

  • candra » 0 Tanggapan
    lbh baik, partai-2 membelo di buang saja, jgn kuatir di parlemen, krn president di pilih rakyat, klu parlemen menghalang kebijaksaan yg sifatnya demi rakyat, biar rakyat saja yg berhadapan dg para dewan yth
    Beri Tanggapan Laporkan
  • bobi » 0 Tanggapan
    Bapak presiden........ ku kamu yang terbaik di negri ini jangan perna menyera maju trus......orang yang bekerja di negri ini dia akan di sanjung.......
    Beri Tanggapan Laporkan
  • jamilah » 0 Tanggapan
    bagaimana Indonesia mau maju, para pengamat (termasuk yang satu ini) bukannya memikirkan solusi yang membangun malah ngomporin. 1000 pengamat kayak gini bisa chaos Indonesia. Ingat bu..ngomporin bikin dosa ibu nambah..ingat akhirat.. Kalo gak bisa ngomong yang baik, diam aja. Ibu orang yang BERAGAMA kan?
    Beri Tanggapan Laporkan
  • gembel » 0 Tanggapan
    saya sangat setuju sekali dengan komentator di bawah...orang indonesia cuma bisa ngomong doang kerja ga becus
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Dian Maria » 0 Tanggapan
    Sepertinya banyak sekali yang mengatasnamakan rakyat tapi sejauh ini yang terlihat hanya elite2 politik dan beberapa mahasiswa saja yang cuap2 dan sok pintar mencari kesalahan orang lain..elite2 politik lobi ke pihak oposisi mencacri dukungan dan mahasiswanya demo rusuh...sebenarnya kasus century ini masalah apa sih? korupsi atau perampokan? kalo korupsi, siapa (gampang aja, tinggal cek kekayaan orang yang dituduh, nambah atau tidak...gitu aja koq report)..kalo perampokan,bukannya memang sudah ditetapkan direktur bank nya yang rampok?... masih banyak masalah kerakyatan yang perlu dibenahi, dari pada cuman rapat pansus yang menghabiskan dana operasional hanya untuk menghakimi orang lain bukan mencari solusi... Padahal kalo dipikir2, DPR juga banyak membuat UU yang tidak benar, kalo kayak gitu apa bisa dikriminalkan? Bagaimana SBY bisa fokus mengurus negara, kalo setiap saat direcokin terus oleh elite2 politik pihak oposisi...Seharusnya kalo demi rakyat, ayo bantu beri solusi...
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.