SURABAYA - Dengan mengenakan pakaian khas Ludruk Jawa Timur, puluhan seniman yang tergabung dalam Seniman Taman Hiburan Rakyat (THR) demo di gedung DPRD Kota Surabaya.
Puluhan pekerja seni tersebut, memprotes kebijakan pemerintah Kota Surabaya yang dinilai telah menjadikan mereka kuda tunggangan; keberadaan seniman hanya sebagai hiasan belaka.
Selain itu, para pekerja seni tradisional ini, juga memprotes anggaran yang dikucurkan dari APBD untuk kelangsungan hidup pementasan yang seharusnya dijaga kelestariannya.
Kucuran dana Sebanyak Rp464 juta yang hanya didapat para pekerja seni ini. Itu juga masih harus dibagi menjadi beberapa bagian sesuai wadah kesenian yang ada, termasuk kewajiban pementasan yang sudah ditentukan. Seniman THR, terbagi menjadi tujuh wadah yang harus dibiayai kelangsungan hidupnya.
Koordinator aksi, Taufik mengatakan, bahwa seharusnya pemerintah kota membiayai penuh aktivitas para seniman. Hal ini dikarenakan, aktivitas para seniman merupakan simbol identitas daerah, khususnya Surabaya.
“Mereka ini simbol daerah, sudah seharusnya pemerintah lebih memperhatikan mereka,” ujar Taufik, di Jalan Yos Sudarso Surabaya, Kamis (25/2/2010).
Komisi A DPRD Kota Surabaya, Ratih Retnowati menemui puluhan seniman yang melakukan aksi demo tersebut, Ratih berjanji, pihaknya akan terus mengupayakan untuk lebih memperhatikan kelangsungan hidup pekerja seni ludruk tersebut.
”Kami akan terus mengupayakan kelestarian hidup kesenian Ludruk. Karena ini sudah tugas kita bersama,” ujarnya.
(fit)