getting time...

Festival Bandeng Kawak Sidoarjo

Jum'at, 26 Februari 2010 06:03 wib

SIDOARJO - Suasana Pendopo Pemkab Sidoarjo, Kamis (25/2/2010) pagi cukup ramai. Pejabat dan warga Sidoarjo memenuhi halaman pendopo untuk melihat bandeng berukuran besar.  
Tak lain, empat buah bandeng yang masuk nominasi terbesar yang diikutkan dalam Festival Bandeng Kawak Sidoarjo 2010. Bagi petambak, mungkin sudah biasa melihat bandeng berukuran besar. Namun bagi warga Sidoarjo, tidak semua pernah melihat bandeng raksasa itu.
 
Festival Bandeng Kawak Sidoarjo itu digelar dalam rangka memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1431 H, di Pemkab Sidoarjo. Tujuannya tak lain, ingin melestarikan tradisi yang sudah lama digelar oleh petambak.
 
Festival Bandeng Kawak, merupakan pestanya petambak. Karena mereka bisa memamerkan bandengn berukuran besar yang dibudidayakan. Sayang kegiatan itu tak semeriah beberapa tahun sebelumnya. “Kalau dibandingkan dengan lima tahun lalu, kegiatan semacam ini masih kalah ramai,” ujar Subhan, salah satu petambak di kawasan Buduran.
 
Dulu bukan hanya festival bandeng, tapi juga lelang bandeng kawak (berukuran besar), petambak lebih semangat untuk memelihara bandeng hingga beratnya diatas 10 kg. Karena selain memamerkan bandeng yang dipelihara, petambak juga mengharap rupiah puluhan juta dari hasil lelang.
 
Namun, ketika kegiatan hanya dikemas dalam bentuk festival, petambak mulai enggan memelihara ikan badeng berukuran besar. Pasalnya, jika menang sekalipun hanya mendapat penghargaan tak lebih dari tiga juta.
 
Padahal, untuk memelihara ikan bandeng sampai beratnya di atas 10 kg, membutuhkan waktu bertahun-tahun. “Untuk bisa seberat 10 kg, paling tidak membutuhkan waktu 8 tahun,” ujar Subhan.
 
Petambak biasanya menyisakan ratusan ekor ikan bandeng yang dipanen untuk dipelihara kembali. Setiap panen, bandeng yang akan dijadikan bandeng kawak tidak ikut dipanen. Dari ratusan ekor bandeng kawak, tidak semuanya hidup. Karena saat panen regular (empat bulans ekali,red) mesti ada yang mati.
 
“Biasanya kalau kita panen, bandeng kawak kita pisahkan ke petak yang sudah disiapkan. Baru setelah kita menabur bandeng kita jadikan satu,” imbuh Kusairi, petambak asal Jabon.
 
Dulunya petambak memelihara bandeng kawak hanya untuk kebutuhan keluarga. Saat Hari Raya Idul Fitri dan hari besar keagamaan, diambil untuk disuguhkan kepada tamu. Demikian pula, saat hajatan sudah menjadi tradisi bagi petambak menyuguhkan menu bandeng besar untuk tamunya.
 
“Kalau kita jual harganya tidak terlalu mahal. Biasanya kalau menjelang Idul Fitri, harga bandeng dengan berat 3 kg, bisa mencapai Rp600 ribu. Kalau ikut lelang bisa meraup nominal lebih besar kalau menjadi juara,” imbuh Kusairi.
 
Agar bandeng kawak perkembangannya cepat, lahan yang disediakan bukan hanya luas tapi cukup dalam. Petambak enggan memelihara bandeng kawak karena takut badeng kecil yang biasanya dipanen 3 sampai 4 bulan perkembangannya lambat.
 
“Biasanya kita mempunyai lahan luas dan petakan banyak untuk memindahkan bandeng kawak. Sebab, kalau panen tidak segera dipindah bisa mati,” aku Kusairi.
 
Meski jumlah bandeng kawak yang dipelihara mencapai ratusan, namun yang beratnya bisa melebihi 10 kg hanya beberapa ekor saja. Sebab, semakin banyak bandeng kawak yang dipelihara perkembangannya cukup lambat.
 
Sedangkan dalam Festival Bandeng Kawak 2010, diikuti empat peserta dari petani tambak. Yaitu, Sulton, warga Perum Magersari A1-19 Sidoarjo, Mulyadi AS, Desa Klurak, Candi, Syaiful Bachri Anwar, Desa Sekardangan, Sidoarjo dan Abdul Muchlish warga Jalan Malik Ibrahim 45 Sidoarjo.
 
Dari keempat peserta, panitia akhirnya menetapkan Mulyadi AS menjadi juara pertama. Sedang juara kedua diraih Sulton, ketiga Syaiful Bachri Anwar dan juara keempat diraih Abdul Muchlish.
 
Bandeng kawak milik Mulyadi usianya 9 tahun, bobot seberat 9,873 Kg, panjang 98,5 Cm dan lebar 22,5 Cm. Sedang bandeng milik Sulton seberat 9,142 Kg, panjang 99,5 Cm dan lebar 22 Cm. Bandeng milik Syaiful Bachri Anwar seberat 5,229 Kg, panjang 84 Cm dan lebar 19 Cm. Sedang bandeng milik Abdul Muchlish seberat 4,802 Kg, panjang 82 Cm dan lebar 18,5 Cm.
 
Mulyadi mendapatkan hadiah berupa medali emas, piagam, trophy dan uang senilai Rp3,5 juta. Sedang juara kedua hingga keempat, panitia memberikan hadiah yang sama dengan nominal yang berbeda-beda. Untuk juara kedua mendapatkan Rp3 juta, juara ketiga Rp2,5 juta dan juara keempat Rp2 juta.

(Abdul Rouf/Koran SI/ram)