Peziarah Makam Aer Mata Mengalir Bagai Air

|

Situs Makam Aer Mata Ratu Ibu. (Foto: Subairi/Koran SI)

Peziarah Makam Aer Mata Mengalir Bagai Air

Di komplek makam Aer Mata Ratu Ibu, Kecamatan Arosbaya sendiri, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Makam Imogiri Mataram. Baik itu pintu gerbang, serta punden berundak-undak menuju ke komplek pemakaman. Untuk menuju ke Makam/Pesarean Ratu Ibu sendiri, paling tidak harus melewati sebanyak tiga pintu masuk, yang desainnya mirip dengan candi.

Letak dari Makam Ratu Ibu sendiri berada di sisi paling utara, dengan kontruksi bangunan yang lebih tinggi, dibanding dengan makam lain yang ada di sekitar. Sementara, di sisi selatan atau bawah, terdapat banyak makam kuno yang berdasarkan cerita warga sekitar, merupakan keturunan atau abdi dalem dari Ratu Ibu.

Makam dari Ratu Ibu sendiri dikemas cukup menarik dan bagus. Selain batu nisan yang mempunyai nilai arisitektur tinggi, makam tersebut juga dikelilingi oleh pagar kayu yang tertutup kain warna hijau.

"Di hari tertentu, kain yang menjadi penutup dan bunga selalu kami ganti," ujar Mulyana (37), juru kunci Makam Ratu Ibu Bangkalan.

Mulyana menjelaskan, kompleks Makam Aer Mata sendiri merupakan salah satu tujuan warga, baik itu yang dari Madura atau Jawa. Kebanyakan, mereka datang rombongan dengan menggunakan bus. Biasanya saat musim liburan atau bulan tertentu, jumlah pengunjung yang datang cukup ramai, per hari bisa mencapai puluhan bus.

Praktis, banyaknya jumlah pengunjung membuat dia kewalahan, terutama dalam mengatur dan memisah antara pengunjung laki-laki dan perempuan, yang memang dalam aturannya tidak boleh menjadi satu. Tak jarang, Mulyana juga sering dibuat pusing dengan pengunjung yang tidak tertib dan melanggar aturan.

"Untuk masuk ke komplek makam kan gratis, tanpa dipungut biaya. Tapi yang sering membuat kami capai, ketua rombongan terkadang tidak mau ngisi buku tamu. Padahal, tiap bulan kami kan laporan terkait jumlah pengunjung," tegasnya.

Mulyana yang bekerja tanpa ada bayaran tersebut, mengaku ikhlas untuk menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah berupa Makam Aer Mata. Untuk menutupi kebutuhan hidup, dia mengaku ditopang oleh istrinya yang berdagang makanan dan minuman, di sekitar komplek makam.

"Siapa yang tidak senang kalau memang ada bayarannya. Tapi kalaupun nggak ada, saya tetap komitmen untuk menjadi seperti ini (juru kunci)," tegasnya.

Sementara itu, salah satu pengunjung asal Sugiono (40), salah satu pengunjung asal Tasikmalaya Jawa Barat, menyatakan setiap tahun punya agenda rutin ziarah ke makam para wali di Jawa-Madura. Dipilihnya kompleks makam aer mata Ratu Ibu, tidak lain karena faktor sejarah yang dinilai merupakan cikal bakal pembawa agama Islam di Pulau Madura.

"Selain berwisata, kami juga berziarah ke makam ini (Ratu Ibu) serta makam lain yang ada di Madura," ujarnya yang datang bersama satu rombongan.

(hri)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • Etalase

      "Munir" Tetap Suarakan Keadilan

      Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

    • Etalase

      Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai

      Gizi buruk dialami sejumlah anak dari pengungsi korban tsunami Mentawai. Minimnya asupan makanan bergizi serta lingkungan yang kotor turut berkontribusi membuat anak-anak tumbuh secara tidak normal.

    • Etalase

      Yadnya Kasada di Mata Wong Tengger

      Rela bolos sekolah serta rela menunda atau meninggalkan pekerjaan demi melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Lantas, apa itu Yadnya Kasada di mata orang Tengger?

    • Etalase

      Istimewanya Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

      Yadnya Kasada termasuk upacara yang istimewa bagi warga Tengger karena diselenggarakan di Gunung Bromo. Dalam upacara tersebut juga diadakan ujian dan pengkuhan dukun-dukun baru.

    Baca Juga

    Penghina Jokowi Belum Bisa Pulang Malam Ini