BLITAR - Jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Blitar pada 2010 meningkat pesat. Hanya dalam waktu dua bulan, terhitung mulai Januari hingga Februari, jumlah warga yang positif terinfeksi HIV/AIDS mencapai 14 orang.
Jumlah ini merupakan angka baru dari akumulasi kasus HIV/AIDS sejak 2005 dengan total angka 164 kasus. Dari jumlah tersebut, 43 pasien yang berstatus sebagai orang hidup dengan HIV/AIDS (Odha) di antaranya meninggal dunia.
“Sampai saat ini mereka dalam penanganan medis petugas,” ujar Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Hari Purwanto, Kamis (4/3/2010).
Pertumbuhan kasus HIV/AIDS pada 2010 ini diakui Hari relatif lebih cepat dibanding tahun sebelumnya. Misalnya tahun 2009, jumlah kasus HIV/AIDS selama 12 bulan mencapai 41 kasus.
Untuk menekan angka ini, Pemkab Blitar mendirikan klinik VCT yang dibuka di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
“Dengan adanya klinik VCT, masyarakat lebih terbuka dalam memeriksakan dirinya. Sebab semua kerahasiaan identitas dijamin,” terangnya.
Asisten Koordinator Program dari KPAD Kabupaten Blitar, Adi Purwadi menambahkan, para penderita ini berusia mulai balita, anak-anak hingga dewasa dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Latar belakang kehidupan sosial para Odha ini juga beraneka ragam.
“Tidak semua sebagai pekerja seks, tapi juga ada yang TKI/TKW, PNS bahkan ibu rumah tangga biasa. Namun etikanya kami tidak boleh menyebutkannya. Mereka ini terinfeksi melalui hubungan seks dan pemakaian narkoba dengan jarum suntik,” papar dia.
Di bawah pengawasan Dinkes dan KPAD, para odha ini diwajibkan mengkonsumsi obat anti retroviral dua kali dalam sehari. Obat khusus bagi penderita HIV/AIDS ini diberikan secara gratis selama seumur hidup odha.
“Kecuali kalau ada penyakit penyerta, itu menjadi tanggungan odha sendiri,” pungkasnya.
(Solichan Arif/Koran SI/lsi)