TABANAN - Polisi terus melakukan pemeriksaan terhadap MGM siswi kelas I sebuah SMP Negeri di Tabanan yang mengaku telah diculik dan diperkosa oleh sekelompok pemuda.
"Benar, korban telah membuat laporan palsu menyatakan dirinya diculik sekelompok orang lalu disekap dan diperkosa," kata Kasatreskrim Polres Tabanan AKP Leo Martin Pasaribu di Tabanan, Jumat (5/3/2010).
Polisi sempat dibuat pusing dengan kasus ini, apalagi orang tua korban telah dua kali melaporkan kasusnya. Polisi disebar ke lapangan guna melakukan penyelidikan termasuk memintai keterangan saksi-saksi.
Namun polisi menaruh kecurigaan dengan gadis berusia 13 tahun itu sebab beberapa keterangannya ada kejanggalan dan belakangan diketahui jika laporan tersebut tidak benar hanya karangannya.
Kepada polisi, korban sempat mengarang cerita didatangi kawanan penculik dan dimasukkan ke mobil dibawa ke suatu tempat. Bahkan kata Leo, korban mengaku sempat ditendang dan ditampar, serta mulutnya disumpal kemudian diperkosa.
Korban juga mengaku telah membuat pesan singkat dalam secarik kertas kepada orang tuanya jika dirinya disekap dalam kamar. "Dia juga mengaku diteror malam hari dan untuk tidak berbuat macam-macam. Jika berani melapor ke polisi bakal dibunuh," terang dia mengutip korban.
"Dia telah merekayasa seolah-olah diculik dan diperkosa, padahal itu hanya karangannya saja. Jadi korban telah membuat keterangan palsu, kami masih dalami kasus ini," kata Leo. Tidak tertutup kemungkinan MGM bakal dijerat pasal 242 KUHP yakni membuat keterangan palsu,namun karena masih dibawah umur sehingga penanganannya dilakukan secara khusus.
Menyinggung motif MGM melakukan rekayasa tersebut,sejauh ini diketahui jika MGM takut dengan orang tuanya karena sudah tidak masuk sekolah, hampir dua minggu. MGM sendiri masuk sekolah pada siang hari sementara ayahnya bekerja keliling sebagai penjahit sandal sehingga tidak tahu aktivitas putrinya.
Karena itulah, lalu MGM mengarang cerita tidak berani ke sekolah karena takut diculik oleh kelompok yang disebutnya para preman berbadan besar itu. Kasus ini karuan membuat ayahnya Dwi Rastika cemas, apalagi dalam pengakuannya juga korban terus diteror lewat telepon agar tidak menceritakan kejadian itu.
Sebelumnya, kepada polisi Dwi yang kesehariannya sebagai penjahit sandal mengaku tak punya masalah dengan siapapun. “Saya merasa tak punya masalah. Jika dikatakan saya bermasalah, masalah apa?” katanya saat melaporkan kasus tersebut ke Polres Tabanan, Rabu lalu.
(fit)