JAKARTA – Kepolisian boleh berbangga atas prestasinya yang berhasil membasmi jaringan teroris. Namun, penangkapan yang kerap berujung kematian pun mendapat perhatian khusus dari Komnas HAM.
Komisioner Komnas HAM Nurcholis menyatakan, pihaknya mengaku heran mengapa setiap menggerebek sarang teroris, polisi harus menembak mati sasarannya. Seperti yang terjadi dengan penggebekan Dr Azhari, Noordin M Top, Saifuddin Zuhri, dan terkahir Dulmatin.
“Kalau kasus ini harus dikembangkan, seharusnya polisi dapat menangkap mereka dalam keadaan hidup. Tapi mungkin kondisi yang memaksa seperti itu,” ujar Nurcholish kepada okezone, Rabu (10/3/2010).
Karena itu, lanjut dia, polisi harus menjelaskan sedetil mungkin kepada pihak keluarga Dulmatin atas penggerebekan tersebut. Jangan sampai, keluarga menuding dan menuntut kepolisian. “Keluarga harus mendapatkan data lengkap terkait ini,” tukasnya.
Lantas, apakah Komnas HAM akan menyikapi penangkapan Dulmatin yang berujung kematian karena diterjang timah panas polisi?
“Kami menunggu respons keluarga. Kalau keluarga tak terima dengan cara penangkapan, maka keluarga Dulmatin akan kami dampingi,” tandas Nurcholis.
Sebagaimana diketahui, Densus 88 Anti Teror berhasil menggerebek jaringan teroris di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Dari penggerebekan itu, polisi berhasil menembak mati Dulmatin yang selama ini dicari hingga Filipina tersebut.(teb)
(M Budi Santosa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.