BIMA - Meninggalnya Walikota Bima Nur Latif secara mendadak di Jakarta masih menyisakan tanya bagi warga Kota Bima. vonis sakit jantung yang menjadi penyebab kematian wali kota nyentrik ini banyak diragukan warga.
Para kerabatnya yang tahu betul mengenai kondisi kesehatan almarhum pun mulai angkat bicara dan mempertanyakan kematian wali kota pertama di Bima ini.
"KPK tidak pernah memeriksa dan mengagendakan memeriksa Wali Kota Bima. Bahkan KPK tidak menangani kasus Wali Kota Bima," ujar Plt Wali Kota Bima, Haji Qurais Haji Abidin, Rabu (10/3/2010).
Hasil visum tim dokter di Jakarta yang menyatakan Wali Kota Bima meninggal dunia karena sakit jantung langsung dibantah oleh kerabat dekat Nur Latif.
"Sepengetahuan saya almarhum tidak memiliki riwayat sakit jantung. Apalagi almarhum tidak dioutopsi hanya divisum luar. Saya masih curiga. Betapa pun saya ini paham betul akan adanya takdir," kata tokoh masyarakat Bima Haji Sulaiman Hamzah.
Selain mempertanyakan penyebab kematian Wali Kota Bima, masyarakat di Kota Bima hingga kini masih bertanya-tanya mengenai sosok sopir taksi yang mengantarkan almarhum ke rumah sakit Cempaka Putih Jakarta sesaat sebelum almarhum meninggal dunia.
Warga juga mempertanyakan bagaimana bisa seorang Wali Kota Bima berjalan sendirian di Jakarta tanpa ditemani ajudan bahkan naik taksi.
Sebelumnya Wali Kota Bima Nur Latif diberitakan meninggal dunia secara mendadak di tengah gencarnya isu dugaan korupsi dana APBD kota Bima periode 2002-2008 yang yang kini sedang diselidiki Kejati NTB dan KPK.
Sebagian menduga kematian Nur Latif terkait penyelidikan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan terminal antar kota antar provinsi [akap] senilai Rp5,5 miliar, serta pengelolaan dana alokasi umum [DAU] dan dana alokasi khusus [DAK] periode 2002-2008 yang kini mulai dilimpahkan ke Kejati NTB dan KPK.
Sebelumya seorang pengusaha asal Bima yang juga terkait kasus pembangunan terminal AKAP Bima ini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejati NTB juga meninggal dunia secara mendadak sehari sebelum dilakukan penahanan.
Namun Susi Widiartini, istri kedua Nur Latif membantah keras jika kematian suaminya terkait kasus dugaan korupsi yang tengah diselidiki KPK dan Kejati NTB. Menurutnya kedatangan Wali Kota Bima ke Jakarta Kamis malam lalu hanya untuk menengok orang tuanya yang sedang sakit.
Meninggalnya Wali Kota yang akrab disapa Noli ini meninggalkan kesedihan bagi ribuan warga Bima. Sejak jenazah tiba di Bandara Sultan Salahudin Bima, ribuan warga memenuhi jalanan yang dilalui iring-iringan hingga menuju peristirahatan terakhirnya di rumah pribadi Nur latif di Kelurahan Rabangodu Bima.
Usai disalatkan di Masjid Penaraga, jenazah langsung dimakamkan di halaman rumah pribadinya di kelurahan Rabangodu Kecamatan Raba Kota Bima dengan diiringi upacara militer.
Ratusan warga yang ikut menghadiri upacara pemakaman pun tak sanggup menahan tangis hingga mengakibatkan kericuhan saat pemakaman dilangsungkan.
(Yudha Hendrawan/Global/fit)