JAKARTA - Temuan sebuah camp latihan perang dan puluhan pucuk senjata api di kawasan Aceh Besar, mengindikasikan perubahan polarisasi teroris dalam menjalankan aksinya.
Menurut pengamat intelejen Dynno Cressbon, aksi bom bunuh diri yang belakangan banyak dilakukan para pelaku teror, tampaknya akan berubah ke pola lama yakni bom mobil, seperti terjadi di Bali 2002 silam. Jika gagal, langkah terakhrinya adalah penyerbuan.
“Mereka menggunakan bom mobil yang diledakkan menggunakan remot kontrol. Namun ini bukan perubahan pola, lebih ke karakter Dulmatin sendiri.
Kalau Dr azhari kan memang karakternya bom bunuh diri,” jelas Dynno kepada okezone melalui telepon, Jumat (12/3/2010).
Camp latihan di Aceh, menurut Dynno, adalah buktinya. Di mana, di tempat itu pasukan dididik dan dilatih secara profesional mengenai penggunaan senjata api otomatis.
“Rencananya camp yang di buka pada Januari ini akan ditutup pada tanggal 10 Maret kemarin. Camp ini hanya dalam pelatihan untuk sniper dan penyerbuan,” imbuh Direktur Pusat Studi Intelijen dan Kemanan Nasional (SIKNAL) ini.
Dynno menambahkan, Jam terbang Dulmatin yang sering melanglang buana ke beberapa daerah konflik di Asia Tenggara telah membentuk karakter yang matang dalam melakukan aksi terror.
“Dulu Dulmatin memang sudah sempat membangun camp di Aceh karena memang diaceh cukup kondusif untuk dijadikan tempat latihan dan membentuk Front Mujahidin Islam Aceh. Tapi karena tsunami, camp bentukan Dulmatin hancur,” pungkasnya.
(Dede Suryana)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.