Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Launching Buku 'Menapaki Jalan Mendaki'

Rizka Diputra , Jurnalis-Senin, 15 Maret 2010 |08:01 WIB
Launching Buku 'Menapaki Jalan Mendaki'
A
A
A

BANDUNG – Kesuksesan bernilai manfaat tentu menjadi impian setiap orang. Namun, sedikit sekali yang paham dengan strategi untuk mencapainya. Sebuah kesuksesan tidak serta merta dapat diraih begitu saja.
 
Dia lahir dari sebuah proses dan waktu yang tidak singkat. Bagi mereka yang ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya, terlebih dahulu harus mengenali Tuhan dan dirinya sebagai makhluk Tuhan.

Mengingat Sang Pencipta merupakan suatu kewajiban bagi setiap insan yang mengaku berketuhanan, maka dengan mengenali-Nya niscaya dia akan mengenali dirinya dengan baik. Bagaimana caranya mengenal Tuhan?

Pengenalan itu dapat dilakukan dengan mempelajari apa yang diciptakan-Nya, yaitu alam semesta. Dengan begitu maka sadar akan kebesaran Tuhan. Alam juga dapat memberikan inspirasi dan tuntutanan bagaimana sebaiknya bersikap terhadap sesuatu.

Berbicara alam, tentu tak dapat terlepas dari manusia sebagai makhluk yang diciptakan untuk berdampingan dengan alam. Oleh karenanya, manusia harus mengenali diri dengan baik agar dapat berinteraksi dan menghasilkan manfaat, sehingga kehidupan menjadi lebih berarti.

Kesuksesan akan lahir bila membiasakan berpikir potitif (possitive thinking) terhadap sesuatu, kendati terkadang hal itu tidak disukai. Namun, janganlah menjadikan setiap persoalan hidup itu menjadi beban, justru dijadikan sebagai pelajaran yang diharapkan dapat membuat semakin matang dan bijaksana dalam berpikir dan bertindak.

“Mulailah dengan membiasakan diri memikirkan semua hal yang baik, mulia, yang menyenangkan, dan positif,” demikian sebuah nasihat dari seorang ilmuwan bersahaja, Ir Palgunadi Tatit Setyawan, alumni senior ITB yang dikenal sebagai Pak Pal itu.

Palgunadi adalah putra sulung dari lima bersaudara kelahiran Tegal, 12 Maret 1939. Beliau berasal dari keluarga yang terbilang pas-pasan. Bahkan, berbekal kehidupan yang sederhana itu, dia mendapatkan falsafah hidup dari sang kakek: sinau dadi wong sugih, ojo dadi wong mlarat. Yang artinya, jadilah orang kaya, jangan jadi orang miskin. Dari falsafah tersebut dia kemudian menerjemahkannya.

Singkat cerita, kehidupan sederhana itu tidak membuat Pak Pal berkecil hati, tetapi justru semakin terlecut semangatnya untuk terus menambah khazanah keilmuannya. Suatu hari, Pal kecil diajak sang kakek ke Pelabuhan Tegal.

Di sana dia melihat crane yang sudah rusak. Melihat kondisi itu lantas Pal kecil bertanya kepada kakeknya, “Mengapa crane itu dibiarkan rusak Mbah?" Sang kakek menjawab, “Yang bisa memperbaikinya hanya seorang insinyur. Karena itu nanti kamu harus menjadi insinyur agar bisa memperbaiki crane itu.”

Berangkat dari pesan luhur sang kakek tadi terlecutlah semangat Pal kecil untuk menimba ilmu eksakta yang akhirnya menjadikan beliau seorang insinyur dan menjadi lulusan terbaik ITB pada masanya.

Banyak hal yang bisa diteladani dari sosok pria bermurah senyum itu. Spriritually logical thinking, disiplin, dan religius adalah sifat menonjol dalam dirinya. Untuk mengenal siapa sosok Palgunadi lebih dekat ada baiknya hadir dalam acara launching buku “Menapaki Jalan Mendaki”.

Acara launching buku mahakarya Pak Pal tersebut sedianya akan berlangsung pada Senin (15/32010) di Aula Barat ITB, Jalan Ganesha Nomor 10, Bandung, mulai pukul 09.30-12.00 WIB.

Rencananya acara tersebut bakal dihadiri oleh Prof Dr Akhmaloka (Rektor ITB), Ir Herry Moelyanto selaku Owner dan CEO PT Megacipta Sentrapersada. Acara ini akan dipimpin moderator Jetti Rosila Hadi.

(Dadan Muhammad Ramdan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement