getting time...

Wartawan Riau Ramai-Ramai Boikot Greenpeace

Banda Haruddin Tanjung - Okezone
Selasa, 16 Maret 2010 01:01 wib
Ilustrasi (Foto: Heru Haryono/okezone)
Ilustrasi (Foto: Heru Haryono/okezone)

PEKANBARU - Puluhan wartawan di Pekanbaru, Riau, menggelar aksi pemboikotan terhadap semua pemberitaan tentang NGO Greenpeace.
 
Hal itu disebabkan LSM yang selama ini santer dikabarkan didanai asing, dianggap tidak peduli terhadap Patih Laman, Kepala Suku Talang Mamak.
 
Wartawan dari berbagai media cetak, elektronik, dan online, yang menamakan diri Forum Wartawan Lingkungan Riau (FWLR), menilai Greenpeace terlalu tebang pilih dalam memperhatikan lingkungan. Padahal Patih Laman kepala suku asli Riau sudah stres karana ribuan hektare hutan adat tempat sukunya hidup di kawasan Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) telah habis.
 
Pemboikotan para jurnalis ini juga ditandai dengan memboikot acara pembahasan lahan gambut Semenanjung Kampar, Pelalawan oleh Greenpece dan Walhi, di Pekanbaru (15/3/2010).
 
"Patih Laman ingin megembalikan Kalpataru ke pemerintah karena hutan adat mereka telah dirusak. Tapi kenapa Greenpece, Walhi, yang katanya peduli lingkungan selama ini diam saja. Inikan tebang pilih," kata Jupernalis Samosir, wartawan senior yang juga Ketua PWI Reformasi Cabang Riau kepada okezone.
 
Haidir Tanjung sekaligus ketua FWLR menilai selama ini para wartawan sudah menunggu sangat lama atas kerjasama LSM di Riau untuk bersama-sama membantu Patih Laman yang kehabisan dana menemui Gubernur Riau Rusli Zainal, untuk memulangkan Kalpataru yang didapatnya dari mantan Presiden Megawati pada 2003.
 
"Bahkan selama ini, malah wartawan yang mengumpulkan dana untuk Patih Laman, tapi LSM disini diam-diam saja," ketus Haidir.
 
Tidak hanya diboikot, para insan pers ini juga mengadakan aksi protes atas sikap Greenpece di jejaring social Facebook. Sudah puluhan anggota dan tanggapan terus bergulir.
 
Sementara itu, dimintai keterangan secara terpisah, juru kampanye Greenpece Indonesia Zulfahmi beralasan tidak dibantunya Patih Laman mengembalikan karena hal itu dianggap bukan kewajiban mereka.
 
"Di sana kan ada LSM lain yang mengurusnya. Tapi kita hargai pendapat wartawan tentang Patih Laman," akunya.
 
Belum lama, Patih Laman yang sudah tujuh tahun memegang Kalpataru dengan susah payah datang dari dalam hutan tempat tinggal dia di Desa Sungai Ekok, Pelalawan untuk mengembalikan piala tersebut ke Gubernur Riau. Namun karena saat itu Rusli Zainal sibuk keluar kota, Patih Laman yang tidak membawa bekal tidak mampu bertahan lama menunggunya.
 
Dengan penuh harapan diapun saat itu mencoba menghubungi Greenpece, Walhi, dan WWF. "Namun mereka hanya telepon saja, setelah itu diam. Karena sudah tidak punya uang lagi, terpaksa saya pulang," kata Patih Laman.

(lam)

  • e.indra » 0 Tanggapan
    greenpeace LSM antek barat, yg tololnya ada orang indonesia pula di LSM itu yg komplain2, yg diuruskan yg ada duitnya...dasar lho
    Beri Tanggapan Laporkan
  • edoy » 0 Tanggapan
    payah....
    Beri Tanggapan Laporkan
  • endo » 0 Tanggapan
    greenpeace itu sama aja bejatnya apa cukung kayu, perusahaan yg ha jelas ma mereka jadi ajang kampanye. Hidup Patih Laman
    Beri Tanggapan Laporkan
  • eko » 0 Tanggapan
    kasihan kali, patih laman itu, eh mo kmana tuch green peace? jangan2 mereka udah jadi kaki tangan para pembalak!!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • poppy » 0 Tanggapan
    begitulah kalo lsm pesanan, yang diurus gimana pesanan aja. hutan adat patih laman kan bukan pesanan
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.