getting time...

Sex Toys Masih Bertebaran di Surabaya

Amir Tejo - Okezone
Rabu, 17 Maret 2010 16:24 wib
Foto: Amir Tejo (okezone)
Foto: Amir Tejo (okezone)

SURABAYA - Sekilas tak ada yang istimewa dari lokasi tempat jualan sex toys milik Taufiqur Rohman Yunus (21). Warga Dusun Ngawen ini ditangkap Polwiltabes Surabaya beberapa waktu lalu.

Rumah di Jalan Jemursari 29 ini sebenarnya tempat biasa. Namun di depan rumah ini si empunya menyewakan kepada para pedagang yang ingin membuka lapak semi permanen.
 
Setidaknya, di depan rumah di Jalan Jemursari 29 ada dua lapak semi permanen yang disewakan. Yaitu toko obat kuat milik Yunus dan jasa cuci dan setrika Mr Laundry. Sedangkan kios obat seks milik Yunus yang bersebelahan dengan Mr Laundry dalam kondisi tertutup rapat. Nama toko obat kuat pun sudah ditutup dengan cat putih.
 
Kata Atik, salah seorang penjaga Mr Laundry, toko di sebelahnya sudah beberapa hari ini tutup. “Yunus ditangkap polisi beberapa hari lalu,” ujar Atik, Rabu (17/3/2010).
 
Namun, Atik sendiri mengaku tidak tahu kesalahan apa yang dilakukan Yunus sehingga ditangkap polisi. Berdasarkan pengamatan Atik, tak ada yang istimewa dari aktivitas toko milik Yunus tersebut. “Bahkan bisa dikatakan toko milik Yunus sepi pembeli,” ujarnya.
 
Toko-toko yang menjual sex toys dan obat-obatan yang berhubungan dengan seks ini sebenarnya tidak terlalu istimewa. Karena masih banyak toko-toko serupa dengan milik Yunus di Surabaya yang belum terjamah oleh polisi. Biasanya mereka menggunakan nama Tionghoa untuk nama tokonya.
 
Selain menetap di satu tempat, kios-kios semacam ini sebenarnya banyak dijumpai di Jalan Diponegoro, Surabaya, terutama jika malam hari. Maklum di sepanjang jalan ini kalau malam banyak betebaran PSK.
 
Biasanya yang laris adalah obat kuat, kondom konvensional, maupun kondom bergerigi. “Paling banyak obat kuat seperti black mamba atau sejenisnya,” ujar Hartoyo salah seorang pedagang obat seks di Jalan Diponegoro.
 
Selain obat kuat, barang paling laris lainnya adalah kondom. Para pembeli kondom ini biasanya adalah para hidung belang yang akan ‘jajan’ di sepanjang Jalan Diponegoro. Namun kata Hartoyo, saat ini jumlah pedagang serupa dan omzetnya sudah berkurang.
 
“Hal ini dikarenakan jumlah PSK yang berkeliaran di Diponegoro berkurang, sehingga ikut terpengaruh,” ujarnya.

(teb)