getting time...

Survei Instran

Sering Terlambat, Pelayanan KRL Belum Memuaskan

Jum'at, 19 Maret 2010 09:10 wib

JAKARTA – Pelayanan Kereta Rel Listrik (KRL) Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) masih belum memuaskan.
 
Salah satu keluhan terhadap layanan KRL adalah soal ketepatan waktu. Survei Institut Studi Transportasi (Instran) terhadap 367 responden menyebutkan pelayanan KRL Jabodetabek belum maksimal. Ada 12 indikator untuk menilai tingkat pelayanan KRL.

Tiga indikator menunjukkan tingkat ketidakpuasan pelanggan di atas 10 persen. Keterlambatan KRL menjadi persoalan yang paling dikeluhkan, yakni sebanyak 294 orang atau 19,8 persen. Urutan kedua kepadatan penumpang (berjejal), yakni 272 orang atau 18,4 persen. Pada urutan ketiga, yakni keluhan KRL kotor sebanyak 172 orang atau 11,6 persen.

Direktur Eksekutif Instran Darmaningtyas mengatakan, hasil survei juga menyebutkan bahwa responden menilai yang paling bertanggung jawab atas persoalan KRL adalah PT Kereta Api (KA).

Dengan demikian, lanjut dia, pemisahan PT Kereta Commuter Jabodetabek (KCJ) dari PT KA belum banyak diketahui masyarakat. ”Ini artinya masih ada pekerjaan rumah sosialisasi pemisahan tersebut agar nama PT KCJ lebih dikenal bagi penumpang KRL daripada PT KA.

"Pengenalan itu penting untuk membantu konsumen memperjelas atau memperpendek komplain mereka, tidak semua penumpang kereta api harus ke PT KA,” ujar Darmaningtyas. 

Dia menjelaskan, persoalan KRL dari masa ke masa hampir sama. Misalnya, keretanya buruk (terutama yang ekonomi), penumpang berjejal melebihi kapasitas, dan jadwal pemberangkatan sering tidak menentu sehingga tidak memberikan kepastian waktu bagi pengguna.

Darmaningtiyas menjelaskan, penataan KRL ke depan tidak bisa dilakukan secara parsial. ”Untuk itu diperlukan kerja sama yang sinergis antarkedua institusi tersebut dalam rangka perbaikan layanan KRL Jabotabek. "Koordinasi antara PT KCJ dengan Pemda DKI agar lebih ditingkatkan di masa mendatang,” ungkapnya.

Menurut Darmaningtiyas, penataan KRL sangat penting. Sebab, kapasitas angkut KRL lebih banyak dibandingkan dengan angkutan umum.

Selain itu, KRL merupakan satu-satunya moda transportasi yang bebas macet. Anggota KRL Mania asal Tangerang Antoni Raja (35), mengeluhkan terbatasnya jumlah armada KRL. Akibatnya, banyak penumpang yang bergelantungan dan naik di atas atap.

Untuk itu, pihaknya meminta jadwal perjalanan KRL ditambah. Kalaupun tidak bisa ditambah, paling tidak jadwal yang sudah ditetapkan bisa beroperasi tepat waktu.

Andi Rahmah (37), anggota KRL Mania asal Pasar Minggu, Jakarta Selatan menyoroti jumlah penumpang yang berjubel pada jam-jam sibuk. Akibatnya, penumpang perempuan kerap mengalami pelecehan di atas KRL karena berdesakdesakan. Dia berharap nantinya disiapkan KRL khusus perempuan.

Direktur Utama PT KCJ Kurniadi Atmosasmito mengakui banyaknya kekurangan dalam pelayanan KRL. Pihaknya terus melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan pelayanan, salah satunya menambah jumlah armada KRL.

”Tentunya dalam pengadaan armada tidak bisa cepat,tapi membutuhkan proses,” tuturnya. Kurniadi menjelaskan, pengoperasian KRL melibatkan sejumlah instansi. Misalnya, pasokan listrik melibatkan PLN.
(Koran SI/Koran SI/ram)