JAKARTA - Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar, menampik telah mengeluarkan pernyataan bahwa waktu salat subuh di Indonesia terlalu pagi.
Syamsul Anwar mengaku heran dengan pemberitaan yang beredar bahwa Muhammadiyah mengklaim waktu subuh kepagian.
“Padahal kami mengatakan, waktu (salat subuh) yang dipakai di Indonensia sudah pas, namun kami mengagendakan pembahasan pedoman hisab muhammadiyah, termasuk waktu salat, gerhana, dan salat subuh yang sementara pihak ada yang mengatakan kepagian,” ujarnya saat berbincang dengan okezone melalui telepon, Kamis (25/3/2010).
Saat itu, lanjut Syamsul, dijelaskan pula tentang adanya perbedaan waktu salat subuh di negara-negara di Eropa dan negara yang letak geografisnya di atas 20 derajat lintang utara.
“Seperti saya menyebut waktu salat subuh di Mesir yang berada pada 19,5 derajat lintang utara atau Maroko yang ada di 18 derajat lintang utara, itu waktu subuh lebih lambat. Dan itu yang akan kita kaji saat Munas Tarjih besok,” jelasnya.
Khusus di Indonesia, kata dia, waktu subuh yang saat ini dipakai memang sudah pas, karena letak geografis Indonesia berada di kawasan Khatulistiwa.
“Munurut hitung-hitungan Muhamadiyah juga waktu yang dipakai di Indonesia memang sudah pas,” pungkasnya.
(ded)