KEDIRI- Eringga, bocah berusia enam tahun asal Desa Sambiroto, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur atau di daerah lereng Gunung Wilis memiliki perilaku aneh.
Selain gemar memakan sabun, putra pasangan Nuhari dan Marsiah ini juga suka mengonsumsi pasta gigi hingga menenggak parfum yang mengandung alkohol.
Tentu saja kebiasaan ganjil itu mengundang perhatian warga setempat. Menurut Nursiah, tabiat unik anaknya diketahui sejak berumur dua tahun. Bahkan kala itu usai menelan pasta gigi dan sabun mandi, Eringga mengalami keracunan dan diare.
Putra keempat pasangan suami istri yang tengah mengikuti program transmigrasi ke Bengkulu itu, sampai dilarikan ke rumah sakit. “Saking parahnya, saat buang air sampai mengeluarkan darah,” tutur Marsiah.
Sebagai orang awam, Marsiah mengaku tidak mengerti dengan tingkah laku anaknya. Sementara, meski berulangkali sakit perut, Eringga tidak pernah menghentikan kebiasaanya memakan sabun dan pasta gigi. Seiring bertambahnya usia tidak hanya pasta gigi dan sabun yang dimakan, minyak kayu putih, parfum yang mengandung alkohol, dan sabun colek juga disantapnya.
Bumbu dapur, termasuk juga bawang merah dan dan bawang putih juga ditelannya. “Namun yang paling disukai adalah pasta gigi,” terang Marsiah.
Keanehan itu juga langsung dipamerkannya acap kali ada orang berkunjung untuk melihat tingkah lakunya yang tak lazim. Seolah mati rasa, pasta gigi dan sabun colek langsung disantapnya seperti menghabiskan ice cream. Sayangnya, Eringga sulit diajak berkomunikasi. Ia terlihat lebih menikmati aktivitasnya yang aneh daripada berbincang dengan orang lain.
Bahkan Eringga langsung tersinggung ketika pasta gigi yang dimakannya diminta. “Tentunya yang kita lakukan adalah melakukan pengawasan selama 24 jam agar tidak makan makanan berbahaya,” papar Marsiah.
Menanggapi kelainan tersebut Kepala Puskesmas Mojo Irodat Sujono mengatakan bahwa Eringga menderita autis akut akibat keterlambatan penanganan. Seharusnya, sejak diketahui berperilaku aneh, orang tua harus segera memberikan perawatan medis secara khusus. “Akibatnya si anak seperti hidup dalam dunianya sendiri dan mengabaikan lingkungan sosialnya,” ujarnya.
Selain mengimbau orang tua melakukan pendampingan seintens mungkin, pihak puskesmas juga memberikan perawatan gratis kepada Eringga. Sebab jika dibiarkan, makanan tak lazim yang dikonsumsinya bisa berdampak pada kecerdasan dan pertumbuhan.
"Kita berikan kontrol gratis setiap 10 hari sekali. Semoga ini bisa menyembuhkan dari kelainannya," pungkasnya.
(Solichan Arif/Koran SI/ful)