Haji Fathoni demikian biasa dia dipanggil, terlihat sangat tenang. Mengenakan baju muslim dan peci putih menambah penampilannya begitu Islami. Saat masuk ke ruang Kasi Bimbingan Narapidana (napi) Koesdwi A. Adi, dia langsung menyalami wartawan yang sudah menunggunya.
Setelah wartawan memperkenalkan diri, salah satu napi dengan nama lengkap H Fathoni Rahman ini mengangguk-angguk. “Ya sebelumnya saya memang sudah biasa menjadi juara MTQ (musabaqoh tilawatil Quran). Alhamdulillah bisa menang,” katanya santai.
Fathoni memang patut berbangga. Ia menjadi salah satu peserta Pekan Olah Raga antar Napi (Pornapi) se-Jatim yang digelar di LP Kelas I Lowokwaru Malang pada tanggal 24-27 April. Tak tanggung-tanggung, tiga piala disabetnya dalam Pornapi tersebut. Di antaranya Juara III MTQ, juara harapan I dakwah, dan juara I hifdzul (hafalan,red) Alquran.
Diakuinya, para peserta Pornapi Jatim memang sangat ahli di tiga bidang, terutama bidang dakwah (pidato), MTQ dan hifdzul Quran. Paling berat dirasakan Fathoni, adalah peserta dari Madiun yang sangat pandai berpidato. Selain itu untuk hifdzul Quran dia mengakui kalah dengan peserta dari LP Kediri dan LP Madura. “Mereka pandai-pandai. Saya akui itu,” terang Fathoni.
Menurut Fathoni, keahliannya melantunkan ayat-ayat suci Alquran sebenarnya sudah terasah sejak belajar di Madrasah Tsanawiyah di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Sejak saat itu, keterampilannya membaca Alquran terus dikembangkan hingga beberapa prestasi diraihnya mulai di Tuban hingga di Pati (Jateng). “Saya pernah tinggal di Pati, dan jadi juara I MTQ tingkat remaja di Pati,” katanya.
Keahliannya di bidang agama itupun lantas dimanfaatkan untuk membantu mengajar para napi di LP Kelas II A Bojonegoro. Setiap pukul 08.00 – 10.00 WIB ia membantu mengajar baca tulis Alquran di Musala Baitur Rahim di LP. “Di LP itu banyak yang belum bisa baca-tulis Alquran, ya sekitar 25%, yang biasa,” katanya.
Dari data di LP, Fathoni bukan kali ini saja menunjukkan prestasinya. Karena, sebelum tersangkut hukum kasus uang palsu dan divonis enam tahun sekarang, dia juga pernah mendekam di LP Bojonegoro atas kasus yang sama. Yakni pada tahun 1988 silam. Uniknya, pada tahun itu, dia juga dikirim ke acara Pornapi Jatim dan menjuarai MTQ, yakni juara I. “Bahkan dikirim ke Pornapi nasional dan menang dapat juara II nasional,” katanya.
Saat berbincang dengan wartawan, ia mengaku sangat menyesal dengan kasus yang kini membelitnya. Dari vonis enam tahun, saat ini baru menjalani 2,5 tahun. Dengan tersenyum, dia mengaku tak ingin lagi berprestasi dalam Pornapi dua tahun mendatang. “Karena, kalau bisa sebelum Pornapi nanti saya sudah bebas,” harapnya.
Kosdwi A Adi, Kasi Bimbingan Narapidana LP Kelas II Bojonegoro, menuturkan, pihaknya sangat senang dengan prestasi yang ditunjukkan oleh Fathoni. Karena itu menjadi bukti keberhasilan bimbingan napi. “Ya ini menjadi bukti bimbingan napi berjalan,” katanya.
Apalagi, lanjut dia, saat semua napi masuk ke LP, mereka akan didata mulai identitas diri, keahlian, dan hobinya. Dengan mengisi identitas itu, para napi akan mudah diarahkan dalam proses bimbingan. “Kami juga menyediakan perpustakaan untuk para napi, meski koleksi bukunya masih sedikit,” katanya.
(Fitra Iskandar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.