getting time...

Ani Cabut, Reshuffle Kabinet di Depan Mata?

Muhammad Saifullah - Okezone
Kamis, 6 Mei 2010 10:57 wib
Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (Foto: Reuters)
Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (Foto: Reuters)

JAKARTA - Setelah 100 hari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), reshuffle kabinet akhirnya muncul di depan mata. Meski belum dipastikan, tapi kepergian Menteri Keuangan Sri Mulyani diperkirakan bisa menggoyang susunan kabinet.
 
Karena itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus cerdas mengawal penggantian menteri kesayangannya itu. Jika tidak, posisi berat itu akan jadi rebutan partai-partai politik, seperti yang diungkapkan pengamat politik Siti Zuhro saat berbincang dengan okezone, Kamis (6/5/2010).
 
 
Bagaimana dengan penggantian Sri Mulyani?
 
Partai pasti menunggu. Saya melihat disayangkan dia mundur disaat dia harus menunjukkan public accountabilitynya. Saya sangat menyayangkan. Saya dari awal sangat konsisten, apalagi promosi, apapun alasannya sangat disayangkan. Justru dia harus tabah untuk tetap menghadapi, kalau dia benar.
 
 
Implikasi dari dia menerima, dan Presiden sudah mengiyakan?
 
Akan ada reshuffle. Apakah kabinet akan diperbaiki, tidak hanya untuk Ibu Sri Mulyani. Sebab kalau tidak hati-hati Pak SBY, reshuffle akan jadi. Ini kan era cooling down, masa ini belum usai. Karena itu, mungkin masih parsial penggantiannya. Mungkin posnya akan dicarikan penggantinya. Apakah profesional ataukah orang partai. Melihat gejalanya seperti ini, di mana Partai Demokrat (PD) lebih banyak suaranya. Tentunya PD harus cukup konfiden untuk memutuskan bahwa posisi berat seperti itu sebaiknya dipilihkan dari profesional, yang tentunya rekam jejaknya tidak dibebani oleh integritas. Dalam arti, terpercaya dan kapabilitasnya tidak digugat, khususnya oleh parpol.
 
Perkara dia partisan ke Demokrat kan nggak apa-apa. Itu kan porsinya Demokrat. Siapa yang paling tepat untuk menjaga.
 
Diambil dari Golkar, PAN cemburu, dan sebagainya, jadi sulit. Sekarang andil yang paling besar PKB atau PAN, sudah teruji konsistensinya. Mungkin PKS tak dihitung lagi. Hanya sekarang masalahnya kalau PAN apakah Drajad Wibowo? Saya kurang pasti. Sementara PKB tidak punya stok. Mungkin belajar dari cara SBY merekrut wapres dan para menteri, agaknya tidak mengikuti parameter, jadi saya tidak melihat ada penyeragaman parameter.
 
Ada yang karena sejarahnya, ada yang karena politiknya, ada yang karena alasan lainnya. Ini saya melihat cara dia pilih Boediono. Ada kaitannya dengan internasional, paling tidak indonesia disegani. Dia mencari sosok yang sungguh-sungguh disegani, tak hanya di dalam negeri, tapi juga performance di regional dan internasional.
 
Jadi tak mungkin diambil karena partai, terlalu sempit alasan yang digunakan. Tapi dia akan rekrut sosok yang sungguh-sungguh ketokohannya, nationally, internationally ada pengakuan.
 
 
Kapan kabinet akan dirombak?
 
Kocok ulang akan, tapi tidak dalam waktu dekat. Karena itu janjinya kinerja akan dihitung 100 hari dan setelah 100 hari. Tapi karena Century cukup menyita energi dan mengambil cost yang luar biasa, jadi dia harus mengambil posisi untuk tidak memanaskan situasi. Parpol-parpol sekarang posisinya beda sekali. Ada attitude belum tuntas dari Pemilu 2009.
 
 
Calonnya bukan dari partai?
 
Dari PAN mungkin ada Drajad. Tapi bagaimana untuk dapat berdiri tegak di wilayah internasional.
 
Track recordnya. Apa yang sudah dilakukan oleh Pak Drajad? Bagaimana pengakuan komunitas internasional dan lembaga internasional? Apakah ada pengakuan secara luas dari regional, internasional? Dia kan rekam jejaknya hanya di DPR.
 
Belum malang-melintang. Kalaupun dosen, di mana? Dia kritis. Stok dari dua partai yang loyal kita masih belum lihat.

(lam)