JAKARTA - pengamat intelijen Wawan Purwanto menilai sangat sulit teroris di Indonesia bisa melakukan serangan masif dan terkooridinasi dengan baik seperti yang dilakukan teroris di Mumbai, India, November 2008 silam.
Alasannya, militansi teroris seperti diperlihatkan tersangka yang tertangkap tidak mendukung untuk melakukan serangan skala besar dan terkoordinasi dengan sangat rapi.
"Mereka tidak solid, terbukti dengan mudahnya mengeluarkan pengakuan pengakuan,:" ujar Wawan, Jumat (14/5/2010) malam.
Menurut dia, logistik yang dipersiapkan pun tidak sebesar dan serapi di Mumbai. Teroris di Mumbai menurut Wawan telah mempersiapkan dengan matang logistik yang akan dipergunakan mulai dari kartu kredit palsu, paspor palsu hingga dana dalam jumlah besar.
"Ini yang tidak dimiliki untuk mewujudkan jika memang cita-cita teroris tersebut seperti penyerangan gaya Mumbai," sambungnya.
Yang kemungkinan bisa dilakukan jaringan teroris yang tertangkap tersebut adalah berupa seranga-serangan yang sifatnya sporadis. Dia juga meminta aparat untuk memutuskan jaringan logistik sehingga gerakan teroris bisa dilumpuhkan.
Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri kemarin dalam jumpa pers mengatakan kelompok teroris kini lebih mengincar pejabat negara dan melakukan penyerangan ke hotel-hotel mirip seperti aksi teror di Mumbai, India.
Bambang Hendarso mengungkapkan, salah satu persiapannya, jaringan teroris telah menugasi Suhardi alias Usman dan Rosiqien Noer untuk mengambil 21 pucuk senjata di Mindanao, Filipina termasuk penembak jarak jauh untuk melakukan penembakan pada hari kemerdekaan 17 Agustus mendatang. (frd)
(Koran SI/Koran SI/hri)