Pelecehan Seks di Kereta Sulit Dihilangkan

KRL Jabodetabek (Ist)

Pelecehan Seks di Kereta Sulit Dihilangkan
JAKARTA - Kasus pelecehan seksual di atas kereta atau KRL menjadi satu keprihatinan tersendiri. Masalah ini bisa dikatakan luput dari perhatian dan nyaris tak tersentuh.

Hanya dianggap pengalaman pahit yang begitu saja berlalu dan dilupakan. Sebatas buah pembicaraan di antara para pengguna jasa di sela menunggu KRL yang mengantarkannya saban hari saat berangkat dan pulang beraktivitas di kota.  

Padahal, setiap saat korban terus berjatuhan. Tak ayal, korban-korban selanjutnya pun di posisikan dalam ancaman tangan-tangan jahil yang menggerayangi. Mengenai masalah ini, Koordinator Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan, Ratna Fitriani mengaku sulit untuk memberantas kejahatan terhadap perempuan di atas kereta ini.

"Kalau untuk menghapuskan sama sekali sepertinya tidak akan bisa. Kita harus lebih banyak melakukan pencegahan-pencehan dengan tidak memakai pakaian yang terlalu minim, atau berdandan tidak berlebihan. Menurut saya, itu juga akan mencegah," paparnya kepada okezone.

Selain itu, Komnas Perempuan juga terus memberikan pemahaman kepada masyarakat, terkait kasus kejahatan yang sering terjadi di atas kereta. "Pelecehan seksual atau kejahatan semacam itu adalah tindak kriminal dan diatur dalam undang-undang," papar Ranta.

Pemahaman masyarakat yang menganggap pelecehan bukan suatu tindakan kekerasan justru harus segera diubah. "Kita (perempuan) sebenarnya tidak ingin hal ini terjadi. Tapi terkadang kita juga kalau melapor malah jadi repot sendiri bahkan ujungnya yang dipersalahkan," tuturya.

Kata Ratna, tidak hanya wanita yang berpakaian terbuka dan sedikit mengundang libido pria yang dilecehkan. Bahkan mereka yang berbaju sopan pun seperti pakian kantor dan berkerudung tak luput dari sasaran.

Alumni Univesitas Indonesia ini menuturkan pelecehan seksual di kereta sebenarnya kasus lama yang seolah-olah penanganannya sangat lamban dari pihak terkait. "PT KAI juga harus memperbaiki kinerja dan memperhatikan apa saja keluhan masyarakat," desak dia.

Apabila tidak segera ditangani, ungkap aktivis perempuan ini, bisa jadi masyarakat akan meninggalkan kereta. "Tapi menurut saya sangat sulit mengingat kereta adalah sarana transportasi yang murah dan banyak dipakai oleh masyarakat," jelas Ratna.

Sebab itu, dia menyarankan PT KAI perlu menambah gerbong pada jalur-jalur padat sehingga penumpang tidak berjubel. "PT KAI harus memberikan pelayanan yang lebih dengan ditambahkannya jadwal kereta terutama pada jam-jam pergi dan pulang kantor," tandas dia.

Sementara itu, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, perlu ada penanganan lebih lanjut dari tindak kejahatan yang terjadi di atas kereta api.

"Ya kalau dari YLKI sudah mengetahui permasalahannya dari dulu. Tapi kalau ada laporan dari masyarakat kami akan tindak lanjuti. Menurut kami harus ada perbaikan dari PT KAI-nya dulu dimulai dengan mengcek gerbong-gerbong yang masih layak atau tidak," paparnya.

Dari kajian YLKI, masih banyak warga Ibu Kota yang memanfaatkan sarana kereta sebagai angkutan umum, meski kondisinya sudah tidak nyaman dan aman. Tulus juga mengatakan, pelecehan seksual di atas KRL mencerminkan tidak berjalan kinerja dari PT KAI.

"PT KAI membiarkan masyarakat berdesak-desakan saat masuk yang di dalam gerbong pun sudah membludak. Ini juga mencerminkan situasi di mana penegak hukum sudah tidak berjalan dengan baik. Karena bukan tidak mungkin banyak masyarakat yang mengadu namun tidak didengar," ungkap Tulus.

Lebih lanjut dia memaparkan, sebenarnya bukan hanya kejahatan pelecehan seksual yang terjadi di dalam kereta api. Banyak tindakan kriminal yang tidak terekspos oleh masyarakat. "Dari penjambretan hingga pasangan selingkuh," imbuhnya yang menyarankan korban pelecehan seksual harus melapor sekaligus untuk menguji ketegasan aparat penengak hukum, sedangkan untuk pihak PT KAI perlu menambah gerbong agar penumpang tidak berdesakan. (ram)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Hari Ini, JK Berkantor di Veteran