Mahasiswa Komunikasi UMM Telanjangi Infotainment

Mahasiswa Komunikasi UMM Telanjangi Infotainment
MALANG - Acara infotainment yang marak di stasiun televisi kita dewasa ini sangat membodohi masyarakat. Bahkan, media yang getol menyiarkan bisa dianggap telah ikut membunuh  masyarakat.
 
Itulah di antara pendapat yang muncul dalam launching buku Menelanjangi Infotainment dan Media-Media Pembunuh Masyarakat karya mahasiswa Jurnalistik dan Studi Media Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  di Coffee Time, Malang, Sabtu (26/6/2010).

Hadir sebagai pembicara dalam acara itu  Abdi Purnomo (Ketua AJI Malang) dan Nurudin (dosen pembina penulisan dari UMM). Acara dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan orang tua wali mahasiswa.
 
Berkaitan dengan buku dan praktik infotainment, Abdi Purnomo, ketua AJI Malang dalam acara launching mengungkapkan, “Infotainment disuka dan dibenci. Infotainment pemberitaanya suka lebay dalam menyiarkan isu yang tidak faktual. Persepsi galak mengenai infotainment dapat dibaca dalam buku ini.  Buku Menelanjangi Infotainment menegaskan tayangan infotainment harus ditingkatkan sesuai undang-undang dan kode etik”.
 
Secara singkat buku Menelanjangi Infotainment mengupas bahwa acara infotaiment di televisi swasta Indonesia sudah jauh dari ideal. Bahkan menyebarkan berita-berita bohong. Buku ini juga mengatakan bahwa infotainment itu bukan jurnalisme. Akibat kenyataan itu, buku-buku yang ditulis mahasiswa tepat kehadirannya. “Kekuatan media televisi harus dilawan dengan kekritisan audiens. Para audiens mencoba bersikap kritis pada ketidakadilan itu. Mahasiswa bagian dari audiens tersebut, “kata Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UMM, Frida Kusumastuti menanggapi terbitnya buku-buku mahasiswa itu.

Sebenarnya, tidak saja infotainment yang membodohi masyarakat, media-media lain juga bisa menjadi pembunuh masyarakat. Nurudin, dosen pembina penulisan dari Ilmu Komunikasi UMM, mengambil contoh buku  Media-Media Pembunuh Masyarakat. “Media yang  yang tidak memberitakan secara seimbang, menutupi fakta yang sebenarnya layak diketahui masyarakat, sarat dengan kepentingan sepihak adalah fakta-fakta pembunuhan masyarakat. Bahkan pembunuhan itu dirayakan besar-besaran dan dengan gegap gempita."
 
“Jadi, jika tidak dilakukan rekonstruksi besar-besaran dan masyarakat begitu apatisnya pada acara yang tidak mendidik, termasuk infotainment, media kita telah berusaha membunuh masyarakat beramai-remai. Bahkan semua itu dilegalkan dengan sebuah acara, “tegas Nurudin yang sudah menulis puluhan buku itu kepada okezone.

Masih kata Nurudin, buku itu akan menjadi daya dobrak kebekuan penulisan di kalangan sivitas akademika. Bahkan buku karya mahasiswa itu menyindir  dosen-dosen yang selama ini tidak punya karya. “Buku ini juga menjadi kritikan pedas pada tayangan infotainment yang selama ini tidak lagi mendidik karena hanya menyiarkan informasi 'sampah', “tandas dosen yang juga telah menulis puluhan buku itu.

Ketika dimintai tanggapannya soal terbitnya buku itu, Ditalia I Mufrida, salah seorang mahasiswa penulis buku Menelanjangi Infotainment mengatakan, “Saya sangat  termotivasi dengan terbitnya buku ini. Saya juga tidak membayangkan bisa mempunyai karya yang bisa diterbitkan. Sebagai wujud semangat itu, saya akan mempelopori pendirian Jurnalistik Club di jurusan komunikasi bersama teman-teman."
 
Hal senada diungkapkan mahasiswa bernama Tri Sulistiowati yang mengatakan bahwa dia terbakar dengan motto dosennya yang berbunyi  "Publikasikan atau Menyingkirlah." “Itu sangat menohok saya tentunya. Dan saya mencoba membuktikannya,” tandasnya.

Buku ini melengkapi 3 karya buku sebelumnya yakni Kutu-kutu Media Massa, Seksualitas dalam Globalisasi Media,  Kuda Troya Media Massa dan Jejak Pers, Tapak-tapak Kaki Para Kuli Tinta Mencari Jati Diri, Antara Idealisme Vs Komersialisasi. (mbs)

berita terkait

foto & video lainnya

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Enam Sekolah di Pacitan Direnovasi