tragedi sukhoi

Klose: Teknologi Video, Kenapa Tidak?

Fetra Hariandja - Okezone
Selasa, 29 Juni 2010 11:42 wib
Foto: Striker Timnas Jerman Miroslav Klose (Reuters)
Foto: Striker Timnas Jerman Miroslav Klose (Reuters)

CAPE TOWN - Timnas Jerman diuntungkan dengan keputusan wasit yang menganulir gol gelandang Inggris Frank Lampard. Padahal dalam rekaman televisi terlihat jelas bola jatuh di dalam garis gawang kiper Der Panzer Manuel Neuer.

Neuer juga mengakui seharusnya itu menjadi gol sah bagi The Three Lions. Tanpa sungkan, Neuer menyebut wasit Jorge Larrionda dan asistennya bodoh. Setelah laga, seluruh punggawa Inggris juga meminta Badan Sepakbola Dunia (FIFA) menggunakan teknologi video pada Piala Dunia selanjutnya.

Keteledoran wasit bukan hanya terjadi pada laga Inggris kontra Jerman. Wasit Roberto Rosetti juga mengambil keputusan ceroboh. Pengadil lapangan hijau asal Italia ini mengesahkan gol striker Argentina Carlos Tevez yang berdiri pada posisi off-side saat memanfaatkan bola rebound Lionel Messi.

Tuntutan agar FIFA menggunakan teknologi video juga disampaikan pelatih Portugal Carlos Queiroz, petenis Swiss Roger Federer dan Perdana Menteri Inggris David Cameron. Striker Timnas Jerman  Miroslav Klose juga mendukung penggunaan teknologi tersebut.

Hingga kini FIFA masih mengabaikan tuntutan tersebut. Hal ini membuat bomber Bayern Munich tidak habis pikir. Dia tidak mengerti mengapa teknologi tidak dapat digunakan untuk memastikan apakah terjadi gol atau tidak.

"Bila teknologi diterapkan, bisa saja kartu diletatkan pada bola atau kamera di garis gawang. Jika masuk masalah teknis, maka mereka harus menggunakan," kata Klose seperti dilansir reuters, Selasa (29/6/2010).

"Bukti televisi adalah sarana lainnya. Apa yang saya bicarakan adalah kartu teknologi atau kamera di garis gawang. Ini digunakan pada cabang tenis dan olahraga lainnya. Jadi mengapa tidak diterapkan pada cabang sepakbola juga?," tanya Klose.

Juru bicara FIFA sudah mengungkapkan tidak memiliki rencana bereksperimen dengan teknologi viedo di garis gawang. Padahal tekanan agar FIFA menerapkannya semakin mengalir deras.
(fmh)