JAKARTA - Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) yang mewanti-wanti kader beringin agar berpolitik menerapkan gaya tikus menuai kritikan.
"Itu perlu diklariffikasi karena tikus sduah terlanjur dictirakan buruk," ungkap politisi Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Syaifuddin di Gedung DPR, Jakarta, Senin (5/7/2010).
Dia mengaku tidak memahami dalam konteks apa Ical berbicara prinsip tikus tersebut. "Saya nggak tahu dia komentar begitu konteksnya apa. Biarlah masyarakat bisa mengerti," ujarnya.
Dia mengatakan tikus itu udah terlanjur dikesankan binatang yang citranya negatif, sehingga mungkin akan lebih baik jika analoginya bukan tikus. "Politisi itu harus punya ideologi dan ideologi itu harus diarahkan untuk rakyat banyak bukan untuk kepentingannya sendiri," tandas Lukman.
Dia menambahkan, hidup itu untuk politik bukan hidup dari politik. "Jangan berorientasi politik untuk kepentingannya sendiri. Tikus itu sudah terlanjur dicitrakan buruk karena perilaku tikus itu tidak terpuji," terang dia mengingatkan lagi.
Sebelumnya, dalam rapat koordinasi pemenangan Pemilu 2014 di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Aburizal mengatakan, setgab bukan jebakan politik. "Kita bukan menjebak, masuk jebakan politik tapi itu untuk rakyat, bekerja keras, main tangkis yang kemudian dalam permainan itu gigit terus," tandasnya.
Lebih lanjut Ketum Golkar mengemukakan, prinsip yang harus dipegang semua elemen partai adalah seperti tikus. "Golkar harus berprinsip seperti tikus, ngendus-gigit, ngendus-gigit. Jangan langsung gigit, nanti kalau dipukul bisa mati," jelas Ical.
(ram)