BLITAR- Lebih dari 50 persen situs purbakala peninggalan kerajaan nusantara yang tersebar di sejumlah daerah di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, mengalami kerusakan.
Selain karena minimnya perawatan, usia dan alam menjadi faktor penentu kerusakan. Menurut keterangan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda dan Olahraga Budaya serta Pariwisata Kabupaten Blitar Andri Duana, sedikitnya ada 15 situs kerajaan sejak zaman Singasari, Kediri hingga Majapahit.
Dan sesuai pada umumnya, semua peninggalan purbakala tersebut berada di wilayah kewenangan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). “Dari pengamatan kami 60% di antaranya rusak,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (7/7/2010).
Data dinas menyebutkan, selain Candi Sawentar di Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar juga memiliki Candi Simping di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademanganyang menjadi tempat persemayaman abu jenazah Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.
Kemudian situs kuno di Desa Jimbe Kecamatan Kademangan, Candi Tepas dan Candi Watu Tumpuk di Kecamatan Kesamben, Candi Kotes dan Candi Bringin Branjang di Kecamatan Gandusari, Candi Plumbangan Kecamatan Doko, Candi Sirahkencong, Prasasti Mungut Kecamatan Wlingi, Candi Meri Kecamatan Srengat, Candi Kali Cilik, Candi Sumbernanas, Candi Gambar Wetan Kecamatan Ponggok dan Candi Penataran, Kecamatan Nglegok.
“Kalau Candi Penataran tergolong terawat, karena wujud dan statusnya sebagai candi terbesar,” terang Andri.
Mengingat kewenangan ada di BP3, menurut Andri, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Upaya melalui usulan anggaran dengan tujuan membantu perawatan candi juga tidak pernah mendapat respons.
Sementara perawatan yang dilakukan BP3 hanya berlangsung 3-4 bulan sekali, meski di setiap situs ditempakan seorang penjaga. Terkecuali Candi Penataran, BP3 menugaskan sebanyak 8 petugas. “Yang dilakukan penjaga hanya sebatas membersihkan dan ini belum maksimal untuk sebuah perawatan,” pungkasnya.
Juru kunci Candi Simping, Desa Sumber Jati, Kecamatan Kademangan Edy Suworo (55), mengatakan sejak tahun 1976 dirinya sudah menjadi penjaga dan kondisi makam Raden Wijaya memang tinggal puing-puing.
Apa yang dilakukan ayah 3 putra dan 3 cucu ini hanya sebatas bersih-bersih. “Kalau saya berharap candi ini bisa direnovasi seperti kondisi aslinya,” ujarnya menambahkan petugas BP3 datang ke situs setiap 3-4 bulan sekali.
(Solichan Arif/Koran SI/ful)