DENPASAR – Setelah pasangan Sarimin dan Suparti, warga Desa Kepek, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta ditahan rumah sakit karena tak mampu bayar biaya persalinan, kisah serupa kembali muncul.
Kali ini, kisah pilu dialami Siti Munawaroh. Lantaran suaminya kabur, bayi laki-laki yang baru dilahirkannya ditahan pihak rumah sakit sehingga ibu muda ini terpaksa merelakan putra pertamanya itu diadopsi.
Dengan wajah letih dan masih menahan rasa sakit, wanita asal Surabaya ini kini hanya bisa berharap ada orang yang berbelas kasihan untuk mengadopsi putra semata wayangnya. "Saya pasrah, siapapun yang mau mengadopsi anak saya, biar ada biaya untuk keluar dari rumah sakit dan ada yang merawat anak saya," katanya di RSU Sari Darma jalan Pulau Seram, Denpasar, Kamis (8/7/2010).
Diceritakan Munawaroh, saat melahirkan ia dibawa ke rumah sakit tersebut pada Sabtu 3 Juli lalu ketika ia mengalami pecah ketuban sejak pukul 07.00 Wita. Namun ia harus menunggu sampai 11 jam lamanya untuk bisa melihat sang buah hati dari pria yang dicintainya bernama Hartoyo.
Sekira pukul 12 malam atau 24.00 Wita Minggu dinihari, bayi mungil laki laki seberat 3 kilogram lahir dari rahimnya. Namun sayang karena mengalami pecah ketuban, oleh dokter yang menangani bayi tersebut mengalami infeksi paru paru sehingga butuh perawatan intensif.
Selama menjalani perawatan di rumah sakit itulah, tak terasa biaya yang mesti ditanggung pasangan ini cukup besar untuk ukuran mereka. "Setiap hari biaya rumah sakit Rp1,5 juta, saya tanya terakhir biaya yang harus saya tanggung Rp6 juta," ucap wanita berkulit hitam ini.
Disaat kebingungan memikirkan kondisi anak dan biaya rumah sakit, mendadak sang suami yang buruh meubel tersebut kabur tanpa meninggalkan pesan. Akibatnya Munawaroh kebingungan dan sedih tidak tahu harus bagaimana karena tidak punya sanak keluarga satupun di Bali.
Wanita malang ini terpaksa tidak bisa meninggalkan rumah sakit sampai ia mampu melunasi seluruh biaya persalinan di rumah sakit. "Saya bingung, suami saya pergi anak saya tidak ada di sini, terpaksa saya putuskan siapa yang mau mengadopsi anak saya, yang bisa merawat saya relakan," katanya sembari menahan tangis.
Pasca melahirkan karena kesehatan bayinya cukup rawan sehingga kini dirawat di ruang Neonatus Intensif care (NCW) Rumah Sakit Umumn Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar. Praktis, Muawaroh seorang diri di Rumah Sakit Sari Darma.
Derita Munawaroh seolah tak berakhir, dua orang yang dicintainya itu tidak ada disamping disaat ia membutuhkan kehadirannya. "Mungkin suami saya pergi ke istrinya yang lain, katanya juga sedang hamil besar," ucapnya lirih.
Selama ini saat hamil tidak pernah diperhatikan kebutuhan hidupnya sehingga iapun terpaksa bekerja sebagai buruh tukang cuci yang dapat gaji Rp14 ribu perhari. Bahkan kondisi kesehatan janin yang dikandungnya tak ia hiraukan sebab selama mengandung tidak pernah suaminya mengajak kontrol ke dokter karena alasan biaya.
Ditanya soal pernikahannya, Munawaroh mengaku sebenarnya sang suami memiliki istri cukup banyak dan tinggal di sejumlah kota. "Suami saya kawin siri dengan enam istri, saya istri ketujuhnya," akuanya tanpa beban.
Ia memutuskan menerima cinta Hartoyo dengan harapan perilaku suaminya yang doyan kawin tersebut bisa tobat dan berubah. Namun ia kini harus menelan pil pahit karena suaminya kabur meninggalkannya di rumah sakit tanpa kabar. Suaminya yang asal Banyuwangi, Jawa Timur itu hanya meninggalkan KTP sebagai jaminan di rumah sakit.
(teb)