Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Berburu Uang Kuno di Pasar Ular Medan

Adela Eka Putra Marza , Jurnalis-Senin, 12 Juli 2010 |06:11 WIB
Berburu Uang Kuno di Pasar Ular Medan
(Foto: Adela Eka Putra/Okezone)
A
A
A

MEDAN - Puluhan pedagang kaki lima berjejer di sepanjang Jalan Sutomo, Medan, Sumatera Utara, pada sore hari di akhir pekan. Lokasi tersebut dikenal dengan nama Pasar Ular. Tapi jangan salah, tak satupun pedagang di sana yang berjualan ular.

Pasar Ular di Medan berbeda dengan Pasar Ular di Jakarta Utara. Jika para pedagang di Pasar Ular, Plumpang lebih banyak menjual segala jenis celana dan pakaian, maka pedagang di Pasar Ular Medan, lebih memilih menjajakan beragam barang-barang bekas yang unik dan antik.

Pasar Ular Plumpang sendiri baru ada pada 1990, tiga tahun setelah Pasar Ular Medan muncul, tepatnya pada 1987. Pasar yang terletak tidak jauh dari Pasar Sambu atau Pusat Pasar Medan itu muncul karena para pedagangan tidak lagi mendapatkan tempat yang memadai.

“Di sini tempatnya strategis. Barang-barang yang tidak dijual di tempat lain, di sini dijual,” tutur Kakek Mas Sirun (85), salah seorang pedagang yang telah berjualan di pasar ini sejak pertama kali dibuka.

Menurut bapak yang akrab dipanggil Kakek itu, kenapa pasar ini disebut Pasar Ular karena pedagang dan pembeli di sini tingkahnya seperti ular, alias tidak ada yang benar. “Harga seribu di sini bisa jadi lima ribu, jadi berlipat-lipat. Padahal barang yang kita jual dibeli dengan harga murah. Makanya harus pandai menawar juga,” tambah Kakek yang merupakan salah satu dari tiga pedagang "senior" yang masih tersisa di Pasar Ular.

Beraneka ragam barang bekas bisa dijumpai di Pasar ini. Mulai dari peralatan kendaraan motor, barang elektronik, barang rumah tangga, jam tangan bekas, kamera jadul, sepatu, pakaian, ponsel bekas, hingga tape recorder lama pun ada di sini. Namun, yang paling menarik adalah berburu mata uang kuno.

Kakek Mas Sirun adalah satu-satunya pedagang yang khusus menjual mata uang kuno sejak awal pasar ini berdirii. Mata uang kuno itu terdiri atas mata uang kertas dan mata uang koin yang tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga ada mata uang asing.

“Ada uang koin dari luar negeri seperti Australia, Thailand dan Rusia. Ada juga uang koin dari zaman penjajahan Belanda. Kalau uang kertas dari Indonesia saja, mulai dari tahun 1970-an,” jelas Kakek yang juga berjualan di Pasar V Marelan setiap paginya itu.

Kakek mendapatkan mata uang kuno itu dari berbagai tempat dan orang yang mau menjual kepadanya. Selain itu, beberapa di antaranya juga merupakan simpanan Kakek sendiri. Mata uang kuno ini tentu saja menjadi buruan para kolektor dunia numismatik tersebut.

Menurut pengakuan Kakek, banyak kolektor yang sering menyambangi lapaknya. Bahkan ada juga pejabat dan pembeli dari luar kota. Para kolektor ini akan membeli berapapun harga mata uang kuno tersebut yang nilainya tentu saja sangat tinggi. Apalagi jika kondisinya “UNC” alias “uncirculed”, atau belum pernah digunakan.

Bagi para kolektor, uang dengan kondisi UNC adalah yang terbaik, karena masih mulus dan belum ada bekas lipatan. Kian tahun harga uang kuno ini pun juga akan semakin meningkat, disesuaikan dengan katalog yang beredar setiap tahunnya.

Kakek sendiri pernah menjual satu set uang kertas zaman Presiden Soekarno seharga dua juta rupiah. Uang tersebut terdiri atas beberapa mata uang kertas satu rupiah hingga seribu rupiah. Bahkan pada tahun 2000, koleksi mata uang kunonya pernah diborong seorang kolektor hingga Rp 37 juta saat dia mengikuti pameran di salah satu plaza di Medan.

Sedangkan saat ini, mata uang Ringgit keluaran kolonialis Belanda di Malaysia menjadi koleksi mata uang kunonya yang paling mahal. Satu ringgit yang nilainya sama dengan 2,5 gulden bisa dihargai hingga Rp125.000, sedangkan satu gulden seharga Rp25.000.

Selain menjual mata uang kuno, Kakek juga menjual batu cincin yang memang banyak disimpannya dari dulu. Jam tangan bekas, prangko dan materai lama, serta keris-keris mini yang bertuah juga dijual Kakek yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah dan saat ini tinggal di Jalan Gaharu, Medan itu.

Dia mengaku bisa mengantongi pendapatan yang lumayan dari penjualan barang-barang tersebut, selain juga ditambah uang pensiunan Brimob untuk membiayai kehidupan keluarganya.

Pasar Ular memang tidak terlalu akrab dengan warga Kota Medan. Tetapi bagi para pemain dalam dunia koleksi-mengkoleksi barang-barang antik, pasar ini sudah menjadi salah satu lokasi yang wajib disambangi.

Suasana Pasar Ular mulai ramai sejak sore sekira pukul 15.00 WIB, ketika okezone sampai di sana. Apalagi, pada akhir pekan. Namun menjelang senja, suasana pasar mulai berangsur-angsur sepi. Satu persatu para pedagang pun mulai mengemasi lapak dagangan mereka. Hingga malam turun, hanya tumpukan sampah yang tertinggal di Pasar Ular.

(Dede Suryana)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement