tragedi sukhoi

Tak Mampu Menafkahi, Orangtua Suruh Anak Ngamen

Rus Akbar - Okezone
Selasa, 20 Juli 2010 12:06 wib
Adek dan kawan-kawan seprofesi. (Foto: Rus Akbar/okezone)
Adek dan kawan-kawan seprofesi. (Foto: Rus Akbar/okezone)

PADANG - "Namaku Adek, usiaku 12 tahun, saya tinggal di Alang Lawas, kerjaku pengamen di Simpang Kantor Pos Padang. Sudah satu tahun saya mencari uang di sini untuk beli baju." Itulah sepenggal kata saat membuka pembicaraan dengan okezone.

Adek yang tinggal di Kelurahan Alang Lawas Kota, Kecamatan Padang Selatan ini sudah berjibaku di jalan, dalam sehari ia bisa mengantongi uang recehan hasil ngamennya sebesar Rp20-30 ribu.

"Saya harus bekerja, kalau tidak saya tak dapat uang, saya juga tidak bisa minta sama orangtua saya. Mereka mengatakan, kalau saya ingin belanja atau beli baju saya harus bekerja jangan minta uang lagi sama orang tua," kata bocah berkulit gelap karena tersengat matahari ini.

Dia sudah putus sekolah sejak kelas IV SD akibat orangtuanya tidak bisa lagi menanggung biaya sekolah. Ayahnya bernama Agus hanya seorang buruh angkut memakai becak di Alang Lawas, sedangkan ibunya Yurnalis hanya ibu rumah tangga.

"Ayah saya hanya tukang angkut buah-buahan. Itu hanya cukup untuk kebutuhan keluarga saja, untuk makan tidak cukup karena ada dua orang saudara yang masih sekolah," kata bocah berpakaian dekil itu.

"Untuk mengamen saya pinjam ukulele kawan-kawan di sini di saat mereka tidak mengamen, kalau mengamen mereka terpaksa saya duduk dulu. Kami harus bersaing untuk mengamen sampai kadang-kadang berebutan," tuturnya.

Uang yang dia dapatkan biasanya untuk belanja sehari-hari dan kalau ada uang lebih dia gunakan untuk membeli baju. "Pada Mei sampai Juli tahun lalu saya kernet bus di Lubuk Buaya. Waktu jadi kernet bus, saya bisa banyak dapat uang," ujarnya.

Dia berhenti menjadi kernet bus karena pekerjaannya terbilang berat. Sebab, banyak penumpang yang tak mau membayar bahkan malah mengancam. Belum lagi bocah ini harus membersihkan dan mencuci bus. "Karena terlalu berat, saya memilih mengamen saja," katanya.

Hidup Adek semakin parah ketika gempa 30 September 2009 menerjang Sumatera Barat. Rumahnya memang tidak hancur tapi kondisi rumah Adek semakin parah atap bocor akibat goncangan gempa.

"Saat hujan kami harus jaga-jaga air dari atap, pernah sekali-kali tertidur pulas, tidak sadar kami sudah tidur di atas air," ungkapnya polos.
(hri)

  • basmi korupsi » 0 Tanggapan
    Beginilah kalo biaya pendidikan mahal, mereka yang mempermainkan sistem pendidikan menjadi mahal memperkaya diri dengan pungutan sehingga mengorbankan masyarakat yang tidak mampu . . .
    Beri Tanggapan Laporkan
  • budi » 0 Tanggapan
    inilah wal dari kriminalitas.masa kecil penuh kekerasan dan tantangan. perhatian ortu gak ada lagi. siapa yang bertanggung jawab terhadap kemiskinan ini?
    Beri Tanggapan Laporkan
  • wulan » 0 Tanggapan
    ya allahh... masih banyak orang yg di bawah kita
    Beri Tanggapan Laporkan
  • hety awaliah » 0 Tanggapan
    kasihan??gara2 ortux tak mampu,anak jd terlantar gn..damana??tanggung jwb nya sbg orang tua!!!!!!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • vera apriliani » 0 Tanggapan
    sebagai orang tua .. saya tdk seuju apbila anak yg masih kecil di suruh cari uang . di mn tanggung jawab sebagai orang tua terhadap anak ??? oang tua wajib membiayai anak sampai anak itu tumbuh dewasa dan sukses .. banyak lapangan kerja kalau kita bisa berusaha????
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.