SDN di Kudus Hanya Peroleh 4 Siswa Baru

Jum'at, 23 Juli 2010 04:02 wib | Sundoyo Hardi - Koran SI

SDN di Kudus Hanya Peroleh 4 Siswa Baru Ilustrasi (Foto Koran SI) KUDUS- SD Negeri II Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, harus memulai proses belajar mengajar tahun ajaran ini dengan jumlah siswa yang sangat minim.

Sebab, pada proses penerimaan peserta didik kemarin, sekolah tersebut hanya memperoleh empat siswa baru.

Pihak sekolah sudah melakukan berbagai cara untuk menarik siswa baru. Misalnya dengan memberikan keringanan membayar uang seragam olahraga, potongan harga untuk pembelian Lembar Kerja Siswa (LKS), memberikan alat tulis, dan kaus kaki. Namun hasilnya masih jauh dari harapan.

Salah satu penyebab minimnya minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SDN III Kaliwungu adalah kondisi bangunan sekolah. ”Di beberapa sisi bangunan sudah mengalami kerusakan. Mulai dari dindingnya retak-retak hingga mengelupas,” kata salah seorang guru SDN III Kaliwungu Rochayatun.

Dia mengungkapkan, seorang siswa pernah tertimpa serpihan dinding hingga kepalanya berdarah. Sejak saat itu, ketika sedang terjadi hujan deras atau angin kencang, guru segera memerintahkan siswa-siswanya keluar dari ruangan.

Dijelaskan, sebenarnya bangunan tersebut masih tergolong baru. Sebab, renovasi terakhir dilakukan pada  2005 lalu. Akan tetapi, tiga tahun berikutnya, yakni 2008, bangunan mulai rusak.

”Mungkin ini menjadi salah satu penyebab mengapa sekolah ini sulit mendapatkan siswa baru,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, beberapa sekolah di wilayah tersebut sering mendapat bantuan untuk memperbaiki gedung. Bahkan, ada satu sekolah yang mendapatkan beberapa kali bantuan. Namun, dia tidak mengetahui secara persis mengapa gedung sekolahnya yang telah mengalami kerusakan serius tidak kunjung mendapatkan bantuan.

”Pihak sekolah sudah mengajukan bantuan ke Disdikpora. Hanya, sampai sekarang tidak ada reliasasinya,” imbuhnya.

Dari data yang ada, jumlah keseluruhan siswa di SDN III Kaliwungu sebanyak 51 anak. Dengan jumlah yang sangat minim tersebut, pihak sekolah masih akan menerima jika ada siswa baru yang mendaftarkan diri.

Disinggung mengenai kemungkinan akan digabung dengan sekolah lain, Rochayatun menyatakan tidak ingin hal itu dilakukan. Solusi terbaik dari kondisi ini adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaran serta fisik sarana prasarana sekolah.

”Dari seluruh siswa yang ada, 85 persen di antaranya berasal dari keluarga tidak mampu. Jika harus digabung dengan sekolah lain, kami khawatir akan menambah ongkos sekolah para siswa tersebut,” imbuhnya.

Salah seorang warga setempat Rusdianto menyatakan, dia memilih memasukkan anaknya ke sekolah lain. Kondisi bangunan yang rusak menjadi salah satu pertimbangannya.

”Kalau siswa selalu was was atau khawatir sekolahnya roboh, bagaimana bisa mereka berkonsentrasi menerima ilmu yang diberikan guru,” ujarnya.

Dia berharap, kondisi ini tidak berlarut-larut. Pemerintah harus turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sangat ironis, sebuah sekolah negeri bangunan yang tidak layak dan tidak mendapat perhartian pemerintah. (Sundoyo Hardi/Koran SI/ful)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »