Tiap Bulan, 15 Korban KDRT Mengadu ke LBH

|

Gambar sekedar ilustrasi (blogger.com)

Tiap Bulan, 15 Korban KDRT Mengadu ke LBH
DENPASAR - Setiap bulannya rata-rata 15 orang korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Bali untuk meminta perlindungan hukum.

Direktur LBH APIK Bali, Ni Nengah Budawati, menjelaskan pada 2009 pihaknya menangani 858 kasus kekerasan. "Dari ratusan kasus itu sebagian besar pelakunya adalah suami atau pacar korban, dalam hal ini kaum perempuan," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (24/7/2010).

Setahun kemudian hingga April 2010, tercatat sekira 170 kasus kekerasan pada perempuan yang sudah masuk ke kepolisian. "Kami setiap bulannya menangani rata-rata 15 kasus KDRT," sebut alumus Fakultas Hukum Unud ini.

Dari pengamatannya, kasus KDRT di Bali sejak sepuluh tahun terakhir ini mengalami peningkatan cukup tajam. Hal itu disebabkan beberapa faktor seperti adanya ketimpangan pemahaman tentang pemberdayaan perempuan antara perempuan dan laki-laki.

Pembahasan masalah KDRT lebih banyak melihat dari perspekstif dunia perempuan saja dan jarang melibatkan keikutsertaan laki-laki yang selama ini menjadi subjek dalam pembahasan mengenai pemberdayaan perempuan.

"Ketidaksiapan laki-laki terhadap pemberdayaan tersebut juga bisa memicu terjadinya KDRT,”  katanya menerangkan.

Di pihak lain, kondisi memprihatinkan juga terlihat dari sidang kasus KDRT. Putusan majelis hakim dalam menjatuhkan hukuman kepada para pelaku KDRT, sangat ringan sehingga sangat mengecewakan publik.

"Kami kecewa dari sekian kasus-kasus yang telah dijatuhi vonis hakim teryata sangat ringan padahal sebagaimanan diatur dalam UU KDRT Nomor 23 Tahun 2004, memberi sanksi berat hingga 15 tahun penjara terhadap para pelaku,” ucapnya.

Dengan melihat fakta maraknya KDRT, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi. Selain itu minimnya anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pendampingan korban KDRT, juga turut menghambat.

"Kami akui sosialisasi UU KDRT dan hal-hal terkait masalah perempuan belum maksimal," aku Budawati itu.(bul) (hri)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Cinky, Anak Yatim Peraih IPK Sempurna (1)