tragedi sukhoi

Mana Sikap Pemerintah Soal Tumpahan Minyak Montara?

Hariyanto Kurniawan - Okezone
Jum'at, 6 Agustus 2010 11:49 wib
GKR Hemas. (Foto: blogspot)
GKR Hemas. (Foto: blogspot)

JAKARTA - Tumpahan minyak akibat ledakan kilang minyak milik Australia, Montara, pada 21 Agustus 2009 silam yang mencemari perairan Indonesia di Laut Timor, hingga kini belum juga ditangani. Pemerintah Indonesia sudah selayaknya bersikap tegas terhadap pemerintah Australia.

Pernyataan tersebut diungkap Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah GKR Hemas kepada okezone, Jumat (7/8/2010).

Pemerintah tidak cukup meminta agar masyarakat yang terkena dampak bencana diberi bantuan. Harga diri dan teritori bangsa, menurutnya, juga dipertaruhkan. "Sikap lembek dapat menjadi pesan yang buruk sebagai ketidakmampuan mempertahankan harga diri," kata Ratu Keraton Yogyakarta ini.

Jika perlu, pemerintah harus melaporkan kasus ini kepada PBB dan meminta sanksi terhadap Australia dan Thailand, yang perusahaan patungannya telah mencemari perairan Indonesia, lebih luas dari kasus pencemaran minyak di Teluk Meksiko. Luasnya pencemaran ini telah memenuhi syarat untuk mendapat perhatian dunia.

Pemerintah juga harus segera bertindak kongkret mengatasi pencemaran untuk meminimalisir dampak jangka panjangnya. Bila pemerintah mengaku telah melakukan upaya meredam perluasan areal pencemaran, maka pengakuan tersebut harus dapat dibuktikan. "DPD RI belum melihat adanya upaya untuk membuktikan pengakuan tersebut," tegasnya.

Sangat penting pemerintah segera memberi bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak langsung pencemaran, tanpa menunggu proses gugatan kepada Montara, yang hingga hari ini nilai kerugian yang akan diajukan pun pemerintah belum bisa memastikan.

Tumpahan minyak akibat ledakan kilang Montara yang terjadi 21 Agustus 2009 di Blok Atlas Barat Laut Timor itu, telah mencemari sekitar 90.000 kilometer persegi wilayah perairan Laut Timor, 75 persen pencemaran berada di wilayah Indonesia. Dengan demikian, Indonesia merupakan negara yang paling dirugikan oleh perusahaan patungan Australia-Thailand tersebut.

Satu tahun peristiwa terjadi dan penderitaan telah dirasakan masyarakat sepanjang pesisir Pulau Timor, Rote-Ndao, Alor, Sabu Raja, hingga perairan selatan Indonesia, pemerintah belum juga menunjukkan sikap tegas dan langkah kongkret. Pemerintah mengaku masih berkutat menghitung kerugian dan mengumpulkan data. Padahal, makin hari kerugian makin besar dan berdampak jangka panjang, meliputi kerusakan yang lebih parah terhadap biota laut, terumbu karang, pantai, dan sebagainya.
(hri)

  • Jonson » 0 Tanggapan
    Memang benar sangat-sangat terlambat. Sejak 21/8/09, pencemaran minyak telah terjadi di celah Timor seharusnya pihak Indonesia sudah bersiap-siap mengajukan proporsal penelitian ke pihak perusahaan PTTEP untuk meneliti sejauh mana dampak pencemaran telah mencemari perairan Indonesia. Sebenarnya dari citra satelit tanggal 30 Agustus 2009 sudah terlihat pencemaran minyak masuk ke perairan Indonesia, seharusnya pihak Indonesia langsung kontak dengan perusahaan tersebut sebagaimana yang dilakukan pihak pemerintah Australia. Sebenarnya saya telah mengikirim artikel ke Kompas berdekatan dengan waktu terjadinya pencemaran pada tahun 2009 yang mengulas masuknya pencemaran minyak ke perairan Indonesia dari citra satelit. Mungkin karena bencana itu memang tidak hangat pada saat itu di Indonesia hanya rakyat kecil yang terkena dampak saja yang teriak maka kompas tidak mempublikasikan. Kami rakyat biasa ini sangat kecewa memilih pemimpin yang kami sangat harapkan membuat perubahan besar di Negeri ini. Ahh, ... lumpur di depan mata aja tidak beres-beres apalagi minyak yang di tengah laut saja. Tanyakan saja pada rumput bergoyang.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Otraigus » 0 Tanggapan
    Harus punya dulu sampel tumpahan minyaknya, lalu lakukan analisis oil finger printing, pastikan jenis minyaknya sama, dan itu dilakukan secepatnya setelah terjadi tumpahan minyak Montara. Bukan setelah lebih dari satu tahun baru diributkan, ya telat choy, nanti kita sebagai bangsa ditertawakan bangsa lain. Terlambat sudah mau diklaim.....
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Otraigus » 0 Tanggapan
    Harus punya dulu sampel tumpahan minyaknya, lalau lakukan oil finger printing, pastikan jenis minyaknya sama, dan itu dilakukan secepatnya setelah terjadi tumpahan minyak Montara. Bukan setelah lebih dari satu tahun baru diributkan, ya telat choy, nanti kita sebagai bangsa ditertawakan bangsa lain. Terlambat sudah mau diklaim.....
    Beri Tanggapan Laporkan
  • siti » 0 Tanggapan
    disini pemipin dituntut ketegasannya jangan terkesan terlihat sangat lembek kenapa sulit sekali tegas saia bingung padahal Bangsanya dilakukan tidak baik... patut dipertanyakan kepemimpinannya, pemimpin atau pimpinan???
    Beri Tanggapan Laporkan
  • vita » 0 Tanggapan
    Indonesia secepatnya harus meminta ganti rugi terhadap perusahaan yg bersangkutan, bukan cuma ganti rugi tapi memberikan laporan ke PBB agar supaya diketahui tindakan selanjutnya sebelum pencemaran melebar lebih luas.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.