JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengaku prihatin dengan insiden kekerasan antaragama yang terjadi belakangan ini.
"Saya terus terang sedih dan prihatin dengan kejadian terhadap umat Kristiani di Bekasi yang akan melakukan kebaktian, kemudian mendapat halangan. Ini menunjukkan rendahnya derajat toleransi di antara kita," katanya di Jakarta, Selasa (10/8/2010).
Apapun alasannya, kata dia, umat beragama memiliki kebebasan untuk menunaikan ajaran agamanya masing-masing. "Itu dijamin oleh konstitusi kita, oleh hak asasi manusia, termasuk juga oleh ajaran Islam," papar Din.
Sambungnya, "Kalau sampai mereka terhalangi sungguh saya sedih dan prihatin. Kalau ada masalah seperti menyangkut pendirian rumah ibadah kan sudah ada ketentuannya, maka itu diindahkan saja. Kalau ada hal-hal perbedaan pendapat maka selesaikanlah secara musyawarah. Jangan dengan kekerasan, jangan dengan main hakim sendiri. Tapi, serahkan lah kepada aparat hukum dan kepada pemerintah."
Din juga mengusulkan agar kelompok-kelompok umat beragama di Bekasi dan di tempat lainnya agar bermusyawarah. "Membicarakan dengan sebaik-baiknya, apa permasalahan yang dihadapi sehingga tidak perlu nanti ada pendekatan main hakim sendiri," terang dia.
Dia menambahkan, pemerintah harus bertanggung jawab dalam menyikapi masalah ini, sehingga masyarakat tidak melakukan kekerasan dan main hakim sendiri. "Tapi pemerintah dan aparat hukum seperti membiarkan dan pengabaian. Saya terus terang mencurigai adanya pembiaran dan pengabaian ini atau berangkat dari tujuan-tujuan tertentu," ungkapnya.
(ram)