JAKARTA - Cat warna abu-abu gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tampak kusam dari Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
Seperti kantor-kantor milik negara lainnya, wajah bangunan ini terkesan muram, dingin, dan angkuh.
Di lantai tiga gedung inilah, Jimly Asshiddiqie menyewa sebuah ruangan untuk dijadikan kantor sejak dia mundur sebagai Hakim Konstitusi pada 2008 lalu. Ruang itu berdesain minimalis dengan dominasi warna cokelat dan abu-abu.
Jimly menjadi sorotan saat mencalonkan diri menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan mundur dari anggota Dewan Pertimbangan Presiden, tiga bulan lalu. Dia dituding oportunis, bahkan disebut-sebut calon titipan Istana. Dia membantah keras isu itu sejak awal dan kini setelah tersingkir dalam proses pemilihan, dia kembali menegaskan hal serupa. "Itu bukti saya bukan titipan," katanya, Jumat (27/8/2010).
Usai salat Jumat tadi, atau tiga jam setelah Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK melaporkan bahwa Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto terpilih sebagai calon kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara, Jimly mengundang sejumlah wartawan untuk menyampaikan pernyataan. Dia menjawab pertanyaan yang sesekali diselingi canda dan tawa.
Bagaimana tanggapan Bapak atas hasil pansel?
Saya rasa itu pilihan yang sudah tepat. Apalagi prosesnya sudah berjalan objektif dan sangat terbuka. Jadi, kita hormati hasil dari sebuah proses yang memang bisa dipertanggungjawabkan seperti itu. Tentu pansel kan punya persepsinya sendiri tentang mana yang ideal. Nah, kira-kira dua ini yang dianggap tepat, ya terima saja.
Apakah Bapak akan tetap memantau KPK?
Bukan memantau, saya kan pernah jadi ketua pansel penasihat (KPK). Saya sekarang diangkat jadi Ketua Dewan Kehormatan KPU. Ya, banyaklah yang bisa dibantu. Saya kira memang tepat begitu, jadi Ketua KPK malah kita nggak bisa lagi bantu-bantu yang lain.
Nggak merasa kecewa Pak?
Ya kecewa, tapi cuma 15 menit saja. Nggak usah lama-lama. Ini kan, kalau sudah diputuskan, perdebatan, pertentangan, itu boleh saja sebelumnya, tapi kalau sudah diputuskan kita mesti terima semua. Kendaraan Republik mesti jalan. Jadi jangan sudah diputuskan ribut lagi, kita hormati saja.
Selama proses seleksi ada kesulitan nggak?
Saya sih mengalir aja. Nggak usah juga terlalu bernafsu gitu ya. Karena saya tidak biasa untuk ngoyo mencari uang, mencari jabatan, nggak usah ngoyo mempertahankan jabatan, mempertahankan kekayaan. Nggak perlu ngoyo, yang penting kalau kita dapat, dipercaya, kita kerja. Banyak orang yang berjuang habis-habisan untuk dapat jabatan, berjuang habis-habisan untuk mempertahankan jabatan, tapi pas diberi jabatan tidak kerja apa-apa. Banyak orang seperti itu.
Nah, saya melihat jabatan itu ya kayak gitu saja, datang dan pergi begitu. Kalau kita sedang dipercaya, ya kita kerja sesuai dengan amanah.
Apakah pansel memberitahu dimana letak kegagalan Bapak?
Saya rasa nggak perlu. Ini kan kewenangannya menentukan pilihan kan dua. Sesudah itu dia lapor kepada Presiden. Presiden memilih dua calon itu kepada DPR untuk dipilih.
Gagalnya dimana nggak tahu Pak?
Ya nggak pentinglah. Sudah selesai kan urusannya.
Dalam sesi wawancara lalu kenapa tidak bersedia menjadi wakil ketua?
Bukan begitu. Syafii Maarif tanya, dia bilang, apakah kalau nanti sesudah dipilih lalu di DPR dipilih menjadi wakil ketua, kemudian tidak dipilih jadi ketua, saudara bersedia hanya wakil ketua? Saya kan kalau mau berdiplomasi kan bisa. Tapi kan saya nggak boleh bohong dan saya tidak mau bohong. Karena nggak mau bohong, ya saya bilang, saya kalau hanya dipilihnya wakil ketua ya saya tidak bersedia. Ya memang begitu karena saya mau menyumbangkan pengalaman saya, visi dan kemampuan saya mudah-mudahan bisa diterima untuk menjadi pengganti Antasari. Dan saya yakin dengan keyakinan bahwa nanti sudah dipilih dua begitu kan yang berwenang memilih DPR.
Nanti DPR akan saya yakinkan, bahwa saya tepat untuk dipilih. Pertama, tepat menjadi anggota dulu, ya kan, mereka kan bisa mempertimbangkan saya untuk dipilih menjadi Ketua KPK. Nah, nanti kalau di DPR ditanya, saya bilang kalau tuan-tuan dan nyonya-nyonya hanya memilih saya menjadi anggota tidak menjadi ketua lebih baik saya tidak usah dipilih. Saya akan bilang begitu karena saya ingin menyumbang dengan pengalaman saya, sebagai Ketua KPK.
Nah, atas dasar itu katanya saya tidak dipilih karena dianggap waduh ini kok maunya cuma jadi ketua. Tapi karena ditanya, ya saya harus jawab, bisa saja saya bilang, ya terserah pokoknya bagaimana di DPR. Tapi nggak bisa saya begitu.
Apa pengalaman itu hanya bisa disalurkan melalui jabatan ketua?
Saya harus memimpin gerakan pemberantasan korupsi yang menurut saya harus lebih efektif dari sekarang. Pertama, KPK harus diselamatkan dulu dari keruntuhan. Moral dari karyawan seluruhnya itu kan harus dibangkitkan. Terus hubungan KPK dengan lingkungan sesama penegak hukum, dengan polisi dengan kejaksaan harus diperbaiki. Sekarang lagi berantem, KPK ini dibenci oleh semua orang. Dia sendirian. Jadi ini harus diperbaiki.
Jadi kalau hanya sekadar wakil ketua nggak perlu saya, cukup yang lain. Jadi mungkin karena jawaban seperti itu, tapi nggak apa-apa, persepsinya pansel itu tidak seperti saya yang tepat. Kita terima saja.
Artinya itu hanya ungkapan kejujuran bukan arogansi?
Kalau saya iya, saya jujur aja dan jawabnya spontan.
Harapan terhadap KPK ke depan?
Mudah-mudahan KPK bisa baik bangkit lagi dari keterpurukan dan gerakan pemberantasan korupsi bisa terus.
(lam)