getting time...

NEWS » Opini

Sinis, Kritis, dan Tobat

Kamis, 2 September 2010 10:40 wib

SEORANG guru mendekati saya sambil membawa halaman depan koran Seputar Indonesia (SINDO) tertanggal 15 Juli 2010. Tentu terkejut, karena di situ ada kolom saya yang berjudul Encouragement. “Saya seperti tertampar,” ujarnya.

Dia meminta saya menuliskan sesuatu dan membubuhkan tanda tangan di koran itu. Saya masih belum mengerti. Beberapa hari lalu dosen-dosen senior di UI juga mendatangi saya dan mereka bertanya apakah kolom itu ditujukan kepada mereka. “Saya pikir apa Pak Rhenald tahu kejadian di kelas saya,” ujarnya. Saya katakan seadanya bahwa saya tidak tahu apa yang terjadi. Di Surabaya seorang dosen mengangkat tangannya saat mendengar ucapan saya agar pendidik tidak “men-discourage” mahasiswa.

Dalam pembekalan para pengajar kewirausahaan itu dia mengatakan, “Saya ini disebut mahasiswa sebagai dosen ‘killer’. Apa saya salah? Toh ada mahasiswa yang jadi.” Di Fakultas Hukum UI, setelah memberikan orasi berjudul “Dosen Harus Menulis”, seorang dosen muda menghampiri saya kemudian berkata, “Saya membaca tulisan Encouragement itu dari mahasiswa saya di Belanda. Dia gagal lulus dengan cumlaude karena saat melakukan tugas ilmiah ke Negeri Kincir Angin itu, dosen yang mengasuh kelas yang ditinggalnya berang dan dia diberi nilai C untuk mata kuliah tersebut.”

Saya katakan, dia harus bersyukur, berarti C itu mahkota di antara nilai-nilai A yang bertaburan di transkrip ijazahnya. Hal serupa dialami seorang mahasiswa di Yogyakarta yang harus mengulang mata kuliah yang sama sebanyak tiga kali karena mahasiswa itu memilih pergi ke Jakarta untuk mengikuti sebuah lomba kewirausahaan (dan dia menang).

Masih banyak cerita dan kejadian-kejadian lain yang saya dengar langsung dari banyak orang yang ingin berbagi pengalaman terkait tulisan itu. Saya juga heran mengapa tulisan itu di-posting di banyak milis dan didiskusikan sejumlah pihak. Tetapi belakangan saya menyadari, rupanya sudah cukup banyak orang yang menjadi korban, ulah dari orang-orang yang sok kuasa, guru yang salah kamar atau dosen yang salah karier, sok pintar, sehingga selalu menganggap dirinya yang paling benar dan orang lain selalu salah dan bodoh. Mereka bangga dianggap killer karena di kelas yang diasuhnya hanya satu atau dua orang yang bisa lulus. Selebihnya mendapat nilai D dan E.

Berdiri Sama Tinggi

Di hadapan rapat dosen untuk menyambut semester baru di MMUI saya membuat gambar sketsa orang di white board. “Inilah Bapak dan Ibu,” ujar saya. Di sebelahnya saya menggambar sketsa orang lain yang tingginya separuhnya. “Inilah anak didik kita. Mereka baru setinggi ini ilmunya, sedangkan Bapak-Ibu setinggi itu. Sudah hebat, buku-buku dan jurnal-jurnal yang dibaca sudah banyak sekali. Pengalamannya juga sudah tinggi,” sambung saya.

Lalu di sebelahnya saya menggambar seseorang yang lebih tinggi, bahkan dua kali ketinggian bapak-ibu guru. “Nah ini mereka 10 tahun lagi. Mereka bisa lebih tinggi dari kita. Kalau ini terjadi, Bapak-Ibu adalah guru yang berhasil. Itulah pentingnya encouragement,” lanjut saya. Mengapa hal itu saya sampaikan? Karena saya mengerti banyak guru yang tidak sabar. Guru-guru yang tidak sabar hanya senang mengajar dan memuji-muji anak didiknya yang pintar-pintar.

Yang sudah jadi dengan sendirinya.Yang tak perlu dibimbing sudah menemukan pintunya. Tak perlu diberi banyak, mereka bisa mengerjakan. Tetapi berapa banyak anak didik seperti itu? Selain kurang pandai mungkin bagian terbesar orang yang datang ke sekolah juga punya banyak kesibukan, aktivitas, atau ketertarikan yang berbeda. Kita tidak sabar sehingga mudah marah, merasa anak didik tidak sederajat.

Sinis dan Kritis

Tentu saja dalam hidup ini bukan cuma guru atau dosen yang merasa paling berhak memberi nilai. Minggu-minggu ini panitia seleksi calon pengganti pimpinan KPK juga dinilai masyarakat. Setelah menjaring dua calon, kini giliran khalayak publik yang menilai. Selasa kemarin, di TVOne, Karni Ilyas memberi nilai 8 atas hasil kerja Pansel. Sebagian orang memberi nilai 9 dan seterusnya. Tetapi, di antara politisi ada juga memberi nilai 6 atau enggan menilai.

Bahkan, ada satu suara sesumbar yang akan melawan undang-undang. Memang tugas politisi membuat undang-undang. Tetapi karena merasa begitu berkuasa, dia mengatakan akan menolak hasil kerja Pansel. Menolak bagi saya berarti, melawan undang-undang yang mewajibkan mereka untuk memilih. Bagi Pansel, dinilai berapa pun tentu tak jadi masalah sebab itulah hal paling maksimal yang dapat dikerjakan.

Tetapi, hal yang menarik adalah melihat bagaimana orang-orang itu memberikan nilai. Mereka yang memberi nilai tinggi terlihat open mind, mudah senyum, dan kritis. Orang yang memberi nilai di bawah 7 umumnya berasal dari kelompok yang sering kita lihat nyinyir, sinis, merasa selalu paling benar atas kasus apa pun. Dahinya sering berkerut, bibirnya sinis, dan kata-katanya, masya Allah, selalu mengalir kata-kata negatif. Saya menilai banyak “loser” yang tidak siap menerima kekalahan.

Kalah bukan berarti mengalah tetapi selalu mencoba menjegal apa saja. Seorang yang memberi kami nilai di bawah 7 diketahui pernah menegur sekretariat panitia seleksi saat teman-temannya tidak lolos salah satu tahapan seleksi. Mereka beberapa kali menelepon panitia dan mengatakan, “Kami berhak menolak nantinya.” Besoknya dia mengancam lagi, “Tugas kami mengontrol, kalau kalian tidak kerja benar saya bisa menolak nantinya.”

Esoknya mereka marah-marah saat mendengar teman-temannya tidak lolos. Dalam pendidikan, hal serupa sama saja.Tidak terima mahasiswa bimbingannya diberi nilai jelek oleh seorang penguji, seorang dosen bisa marah-marah terhadap mahasiswa bimbingan rivalnya tanpa alasan. Tak bisa berkelahi pada level yang sama, mereka mengumbar peluru pada sasaran-sasaran yang lemah. Padahal marah-marah bukanlah karakter seorang pendidik. Orang sering lupa, sinis itu tidak sama dengan kritis. Mereka yang negatif sering berargumentasi kita harus kritis.

“Saya harus lakukan ini karena ini fundamental,” katanya sambil marah-marah. Perhatikanlah dari hidungnya keluar angin cukup kencang. Persis seekor banteng yang kehilangan akal dan mengamuk. Sinis itu negatif. Sedangkan kritis itu tidak berarti marah-marah. Kritis berarti tahu apa yang harus diperbaiki dan menunjukkan bagaimana caranya. Bukan menyembunyikan sesuatu untuk mempersulit orang lain.

Di bulan Ramadan ini saya kira saatnya kita membersihkan diri, menjauhkan diri dari kedengkian, hati yang kotor, dan pikiran-pikiran yang penuh tipu muslihat. Seperti seorang guru yang di pembukaan tulisan ini mengatakan, “Saya seperti tertampar.” atau, ”Apa Pak Rhenald tahu apa yang terjadi di kelas saya?” Orang-orang itu segera menyadari kekhilafannya dan mengatakan bertobat.

Ketika kolom Encouragement banyak diedarkan masyarakat, orang tua, guru, dan mahasiswa, terasa ada kebutuhan. Ada rasa yang kuat di kepala banyak orang bahwa mereka telah diperlakukan tidak adil. Ada katup pelepas yang mereka rasakan ketika hal itu didiskusikan dan ada pengalaman bahwa cara-cara menghukum tanpa sebab sungguh tidak adil. Banyak orang memberi nilai buruk karena ingin membalas, meluapkan ketidaksenangan, menghancurkan, atau bahkan untuk menyombongkan diri bahwa dirinya hebat, superhebat.

Namun, pada saat yang bersamaan saya harus berani mengatakan semua itu bukanlah cara yang baik. Kita bisa menyampaikan kekurangan dengan memahami. Bukan defensif, apalagi ofensif (menyerang) tanpa memberi ruang bagi orang lain untuk bernafas. Saya hampir dapat pastikan, cara-cara yang sinis biasanya keluar dari suara kekalahan, orang-orang yang kalah. Perhatikanlah, kebahagiaan sulit berpihak pada mereka yang “discouragement”.

Mereka selalu merasa paling hebat kendati sekolah mereka dulunya biasa-biasa saja. Perhatikan pula, mereka tak bisa berkarya lebih dari kuasa yang dimilikinya. Kita tak perlu tahu tipu muslihat apa yang telah dilakukan orang per orang untuk menunjukkan argumentasinya. Tetapi, kita bisa merasakannya. Sungguh kasihan mereka yang sulit bertobat dan terbelenggu kekuasaan. Selamat menyambut hari kemenangan.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI


(//mbs)