Mobil Murah Suzuki Dibuat di Indonesia

|

(Foto: Prasetyo/okezone)

Mobil Murah Suzuki Dibuat di Indonesia
JAKARTA- Suzuki Motor Corporation (SMC) berencana untuk membuat mobil low cost and green car yang diproduksi di Indonesia.

Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, pengembangan  mobil tersebut melibatkan mitra lokal sehingga terjadi transfer teknologi di semua bidang. Dan secara bertahap, porsi penguasaan share mitra lokal dan Suzuki adalah sekitar 90:10.

"Produksinya dibuat di Indonesia, mulai dari engine," kata Hidayat di Jakarta kemarin.

Menurutnya, Indonesia mempunyai beberapa kriteria teknis mobil tersebut, yaitu, mesin yang berkapasitas 1.000 cc dan tingkat konsumsi bahan bakar 22 kilometer (km) per liter. Namun, pihaknya masih akan membahas hal ini dengan pihak Suzuki.

"Sebelum ini, Suzuki sudah bekerja sama membangun mobil serupa dengan beberapa negara, salah satunya Pakistan," ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga menawarkan Indonesia sebagai basis produksi green car Suzuki, termasuk yang diekspor ke pasar global. Suzuki, kata Hidayat, juga mengungkapkan niatnya untuk melakukan perluasan usaha di Indonesia.

“Mereka ingin meningkatkan produksi dari 110.000 unit menjadi 220.000 unit per tahun,” tukas Hidayat.

Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika (IATT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin)Budi Darmadi mengatakan, Suzuki tengah mengeksplorasi semua kemungkinan untuk pengembangan bisnis di Indonesia. Jajaran manajemen Suzuki, lanjutnya, akan membicarakan lebih mendalam mengenai kemungkinan tersebut dengan pemerintah.

“Mereka masih mengeksplorasi untuk memperluas dan mengembangkan industri otomotif. Saya lagi membicarakan secara detail dengan manajemennya,” kata Budi.

Terkait dengan regulasi pengembangan mobil murah dan ramah lingkungan, Budi menegaskan, kebijakan tersebut  masih dalam tahap finalisasi, dimana Kemenperin tengah menyusun performance engineering yang dihubungkan dengan bentuk insentif fiskal.

“Ketika kebijakan ini dikeluarkan, kita akan pastikan dapat diterima dan sesuai dengan teknologi near future. Saya mendapat tugas dari Menperin untuk mempertajam dan melengkapi paket ini, kita akan kaitkan performance engineering seperti konsumsi bahan bakar, manufacturing content, dan emisi gas buang dengan insentif,” paparnya.

Hal tersebut, kata Budi ditargetkan rampung pada tahun ini. Budi mengatakan, opsi insentif yang mungkin diberikan dalam program ini yakni pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) dan pajak penghasilan (PPh) badan.

“Kira-kira harga mobilnya nanti bisa segitu USD10.000, tergantung pajaknya nanti. Tapi kita belum bicarakan angka pastinya,” tukasnya. (uky)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Tinta KPK Bikin Jokowi Dilema