Kisah Tragis Korban Tabrakan Kereta di Petarukan

|

Foto: Nanang Fahrudin

Kisah Tragis Korban Tabrakan Kereta di Petarukan

BOJONEGORO – Tabrakan Kereta Api (KA) di Stasiun Patarukan, Pemalang, Jateng membawa duka bagi keluarga Hartiono (50), warga Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, Bojonegoro. Ia ikut tewas dalam kecelakaan saat menumpang KA Senja Utama.

 

Keluarga Hartiono, yang berada di RT 06/01 tak bisa menahan kekalutan saat jenazah korban datang di rumah duka pukul 03.45 WIB Minggu (3/10/2010) pagi. Hujan tangis mewarnai korban yang pulang dalam keadaan di dalam peti. Beberapa anggota keluarga dan warga yang sejak semalam sudah menunggu langsung menyambut peti itu.

 

Jenazah korban lalu disemayamkan di rumah orang tuanya di Desa Ngulanan dan disambut jerit tangis keluarga yang merasa kehilangan. Suasana kampung yang biasanya sepi mendadak riuh. Suara tangis semakin meledak begitu mobil ambulans menurunkan peti jenazah .

 

Korban adalah anak ke -4 dari empat bersaudara . Selama ini korban tinggal di Kudus bersama istri serta 7 anaknya di Kudus. “Dia orangnya baik dan tak banyak bicara,” kata Marjan, kakak ipar korban.

 

Marjan menceritakan, sejak ditinggal di Kudus oleh Hartiono, ia bersama istrinya Sriati yang tak lain saudara korban mengurus rumah orangtuanya di Ngulanan. Kedua orang tua korban sendiri sudah lama tiada. Sehingga, saat keluarga mendapat kabar Hartiono menjadi salah satu korban kecelakaan KA, pihak keluarga sepakat korban dimakamkan di rumah Desa Ngulanan.

 

“Alasannya makam kedua orang tua berada di Bojonegoro . Dan setiap tahun semua keluarga berkumpul,” katanya.

 

Ia menceritakan, selama ini korban bekerja sebagai karyawan di bagian Pengkreditan Bank BNI 46 Jakarta. Terakhir kali pulang ke Bojonegoro yakni saat lebaran hari ke empat beberapa waktu lalu. Marjan mengaku tak ada firasat buruk bakal menimpa adik iparnya. Bahkan sejak dipindah ke Jakarta, almarhum berjanji menyekolahkan ke-7 anaknya sampai perguruan tinggi. “Sekarang 3 orang anak korban duduk di bangku kuliah fakultas kedokteran,” kenangnya.

 

Saat kejadian, korban sendiri hendak pulang ke rumahnya di Kudus dan menumpang KA Senja Utama. Kepulangan ke Kudus awalnya karena ia ingin mempersiapkan rapat bersama Direksi di Jakarta pada Senin ini. Tapi apa mau dikata Tuhan berkehendak lain, dan korban dipanggil Nya lebih dulu.

 

Menurut Hasan, pimpinan kredit Bank BNI 46 Cabang Bojonegoro, rapat itu rutin dilakukan. Kemungkinan korban ingin menyempatkan bertemu keluarga di Kudus. “Rencannya Senin nanti pak Har (korban,red) akan ikut rapat bersama sama,” katanya.

 

Setelah mendengar kabar duka tersebut, Hasan mendapat tugas mencari rumah orang tua korban di Bojonegoro. Ternyata saat ia bertamu ke rumah korban, ternyata keluarga korban sudah mengetahui kabar tersebut pada pk.13.00 Sabtu (2/10) siang. Seluruh anggota keluarga korban sangat histeris mendengar kabar tersebut. Pasalnya sehari sebelumnya istri almarhum , Siti Patini, mengabarkan melalui telepon jika korban baik -baik saja. “Kami tidak menyangka dik Har meninggal dalam kecelakaan kereta,” kata Sriati, kakak korban.

 

Setelah jenazah korban datang, satu persatu keluarga berkumpul mendatangi rumah orang tua korban. Suasana semakin haru ketika anak korban yang ke- dua tiba dari Makasar sekitar pukul 02.30 WIB. Gadis yang menempuh kuliah di fakultas kedokteran di Makasar ini disambut jerit tangis sanak saudaranya. Bahkan Zubaidah, keponakan korban sampai jatuh pingsan dan terkulai lemas.

(teb)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kejagung Sita Aset Udar Pristono