Cerita Lulung si 'Juragan' Jukir

|

Jukir Liar (Ist)

Cerita Lulung si 'Juragan' Jukir

JAKARTA - Nama H Abraham Lunggana mungkin asing di telinga bagi sebagian orang. Namun jika menyebut Haji Lulung, bagi warga Tanah Abang, siapa yang tak kenal.

Haji Lulung menapaki perjalananan hidupnya penuh dengan perjuangan. Ketokohannya yang mengakar di kawasan bisnis Tanah Abang membuat dia disegani dan dihormati. Tapi banyak juga nada sumbang terhadapnya. Dia pun sering dicap sebagai preman. Apa jawaban Lulung terhadap cap preman?

Pria yang memiliki 4.000 orang juru parkir (jukir) dan keamanan ini terkenal dengan bisnisnya mengelola parkiran dan jasa keamanan di kawasan Jakarta Pusat. Tidak hanya di Jakarta, bisnisnya pun sudah merambah sampai ke Bogor.

Suatu hari okezone berkesempatan berbincang-bincang Lulung di kantornya yang asri di Gedung DPRD DKI Jakarta. Sosok ramah dengan rambut hitam lebat menyapa okezone ketika baru tiba di kantornya. "Hai apa kabar, ke mana saja tidak pernah kelihatan nih,” ujarnya.

Pria yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta itu menceritakan perihal adanya beberapa kelompok yang menguasai perparkiran liar di Jakarta. Tak terkecuali aktivitas preman yang menguasai lahan di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan.

”Beberapa kelompok di Senayan menjadi jukir liar. Satu sisi ada perusahaan yang dikontrak dengan pengelola Senayan,” tandasnya yang menyebutkan sempat beberapa kali terjadi bentrokan antarjukir di GBK.

Menurut Lulung, setelah tidak mengelola kawasan GBK Senayan, dirinya tak lagi mengetahui keadaan di sana. Berbeda sewaktu dirinya masih menjadi pengelola parkir, semua preman dan jukir tersebut dibinanya. ”Kita kasih gaji, seragam dengan perjanjian mereka menjaga ketertiban umum, termasuk keamanan dan tidak boleh memeras pengendara,” ungkapnya.

Setelah pensiun dari usaha parkir, dia mengaku tidak bertanggung jawab lagi. “Pasca saya berhenti satu bulan ada bentrokan di sana,” ujar dia.

Lulung menduga, bentrokan tersebut dipicu dari pembinanaan yang tidak berkelanjutan. ”Banyak etnis dan kelompok tertentu pada dasarnya mereka ingin cari makan,” tuturnya. Sebab, di Jakarta, lahan parkir adalah tempat yang basah untuk mencari nafkah akibat susahnya mencari pekerjaan formal di Ibu Kota.

“Mereka ingin adu nasib dan mereka tidak punya kemampuan. Namun ada juga yang sarjana tidak dapat kerjaan. Terpaksa ketika salah bergaul dengan kelompok yang tidak jelas, mereka akhirnya salah jalan. Jalan satu-satunya, hidup harus keras,” paparnya.

Lulung menambahkan, pekerjaan yang mudah didapat adalah juru parkir. ”Lahan parkir adalah daerah tidak bertuan, siapa yang cepat dia dapat,” ujarnya dengan dialek khas Betawi.(lsi)

(ram)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kapolri Baru Harus Mampu Kembalikan Harmonisasi TNI-Polri