Siang Agamis Malam Romantis

|

Foto: Nurul Arifin (okezone)

Siang Agamis Malam Romantis

SURABAYA – Hiruk pikuk Surabaya seakan tidak pernah mati. Dari pagi hingga malam Kota Pahlawan ini seakan larut dalam modernitas kehidupan warganya. Belum lagi ditambah dengan menjamurnya gedung-gedung pencakar langit, seakan menunjukkan kegagahan Kota Surabaya.

 

Di tengah moderenitas ini, terdapat tempat yang kental dengan nuansa religius, tepatnya di tengah kota. Konon tempat ini sudah ada sejak 700 tahun silam sebelum nama Surabaya itu ada. Ya, inilah Bungkul.

 

Di tempat ini terdapat makam yang terkenal dengan nama Mbah Bungkul. Kini tempat itu ramai dikunjungi baik dari Surabaya hingga luar Pulau Jawa.

 

Sayangnya tempat yang sarat dengan reiligius itu berbeda ketika malam hari. Di tempat ini, malam hari kerap dijumpai beberapa pasangan muda-mudi yang sedang asik memadu kasih di sekitar Taman Bungkul. Di tempat ini pula, oleh Pemerintah Surabaya dibangun taman sehingga terdapat puluhan tenda-tenda milik pedagang kaki lima (PKL).

 

Di sekitar Taman Bungkul, cahaya penerangan yang remang terkesan suasana romantis. Sehingga, pemandangan muda mudi yang sedang memadu kasih pun tak pernah merupakan pemandangan yang tak pernah lepas di taman ini.

 

Lantas, siapakah sebenarnya tokoh kharismatik yang dimakamkan di tempat ini. Tak banyak sumber yang menyebutkan sosok Sunan Bungkul itu. Dari berbagai sumber, ada yang menyebut, Bungkul sebagai Ki Ageng Supo. Namun setelah memeluk agama Islam berganti nama menjadi Ki Ageng Mahmudin. Karena lama di daerah Bungkul, maka disebut sebagai Sunan Bungkul.

 

Sunan Bungkul dikenal sebagai seorang tokoh penyebar agama Islam di wilayah Surabaya bersama Raden Rahmad atau yang akrab disapa dengan Sunan Ampel. Bahkan ada yang menyebut Sunan Bungkul ini merupakan tokoh spiritualnya Raden Rahmad sebelum menjadi Sunan.

 

"Menurut Kiai saya, Sunan Bungkul ini adalah guru dan sekaligus spiritualisnya Raden Rahmat sebelum menjadi Sunan Ampel," kata Arif Rizki, salah satu peziarah yang ditemui okezone usai berziarah di makam Sunan Bungkul, Minggu (17/10/2010).

 

Terlepas siapa sosok Mbah Bungkul, saat ini makamnya banyak menjadi jujugan para peziarah. Rata-rata mereka berziarah ke makam Bungkul ini merupakan rangkaian dalam berziarah ke Wali lima atau wali sembilan. Menurut Roni, Pakuncen makam tersebut, peziarah datang ke makam Sunan Bungkul ini sehabis berziarah dari makam Sunan Ampel.

 

Di sekitar makam Sunan Bungkul inilah terdapat sumur yang dipercaya keramat oleh para peziarah. Konon, sumur tersebut merupakan buatan Sunan Bungkul bersama Sunan Ampel dalam waktu semalam. Sumur tua itu diapit oleh dua pohon sawo kecik. Ceritanya, suatu ketika dua tokoh spiritual ini hendak mengerjakan salat malam namun tidak ada air untuk berwudhu.

 

Kemudian setelah bermunajat, Sunan Ampel mengajak Sunan Bungkul untuk menggali tanah di lokasi sumur tua itu. Dalam sekejap hasil galian itu mengeluarkan air yang sangat bening dan jernih. Bahkan hingga saat ini sumur tersebut tidak pernah kering meski Surabaya pada musim kemarau.

 

Untuk berziarah ke makam ini, tidaklah sulit. Setelah berada di kawasan Wonokromo atau yang dikenal dengan Kebun Binatang Surabaya (KBS), jika datang dari selatan Surabaya, bisa berjalan ke utara menuju Jalan Raya Darmo pasti akan mendapati Taman Bungkul.

 

Seiring perkembangan zaman, di sekitar makam Sunan Bungkul, dibangun taman oleh Pemerintah Kota Surabaya. Kini taman tersebut banyak dipenuhi pedagang kaki lima. Ironisnya, di sekitar taman tersebut banyak digunakan oleh muda-mudi memadu kasih.

 

Bahkan tak jarang pula di tempat ini pula sering digelar konser musik, atau festival. Muda-mudi yang datang selain bisa menikmati teduhnya malam bersama pasangan juga bisa menikmati aneka makanan khas Surabaya. Sungguh tempat yang kalau siang agamis dan malam romantis.

(teb)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Warga Korban Letusan Gamalama Butuh Masker