Potret Buram Warga Miskin Kota

Si Manusia Gerobak Bebas Digaruk Asal...

Selasa, 26 Oktober 2010 08:07 wib | Taufik Hidayat - Okezone

Si Manusia Gerobak Bebas Digaruk Asal... Ilustrasi (Ist) JAKARTA - Tidur di dalam gerobak bukanlah hal yang nyaman. Dijamin tubuh akan merasa sakit dan pegal-pegal karena harus menempati kotak berukuran 2x1 meter.

Itulah yang dilakoni Sudarmi (64) bersama anaknya, di gerobak yang diparkir di Jalan Cikini IV,
Jakarta Pusat. Sudarmi dan suaminya adalah seorang pemulung barang bekas yang memungut plastik, besi, dan kardus di sekitar daerah Teuku Umar, Dipoenogoro dan Cikini. Barang-barang yang mereka peroleh harus dijual ke seorang penadah barang bekas bernama Pak Agus di daerahnya tinggal.

Meski tinggal selama setahun di bawah jembatan rel kereta api, mereka merasa tenang. Maklum hidup di jalanan menjadi was-was karena khawatir digaruk petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Penadah itu menjamin keselamatan para pemulung dari ancaman razia Satpol PP. Syaratnya, walaupun harga barang bekas tinggi mereka harus menjual kepada gus dengan harga murah.
"Di sini tinggal aman yang penting barang-barang plastik dijual ke Pak Agus semua. Mau gimana lagi," katanya.

Selain Sudarmi, ada 20 orang lainnya yang tinggal di dalam gerobak di sepanjang jembatan rel kereta api itu. Mereka melakukan rutinitas sehari-hari, seperti memasak, makan, dan minum. Mereka juga harus membayar uang sebesar Rp2.000 untuk mandi di toilet umum Stasiun Kereta Api Cikini.

Selain mencari barang-barang bekas, Sudarmi berjualan kopi dan rokok di tempat tinggalnya. Dia bisa berjualan karena seorang warga memberinya uang Rp100 ribu untuk modal awal membuka usaha. Uang tersebut dia belikan sendok, piring dan gelas dari sesama teman pemulung. Barang-barang itu masih bagus meski diperoleh dari memulung.

Keuntungan yang didapat dari berjualan rokok atau kopi tidak begitu menguntungkan. Tetapi dia merasa memiliki tanggung jawab karena si pemberi uang ingin dia tetap berjualan.
"Waktu malam-malam ada orang yang sering liat saya cari plastik. Dia nggak mau saya cari plastik jadi dia kasih uang Rp100 ribu. Penghasilanya ngga seberapa, ngga enak sama yang kasih uang kalau ditutup," katanya.

Sudarmi memilik seorang anak benama Haryadi Natakusuma (9). Dia berharap dapat menyekolahkan anaknya hingga tamat SMA. Dia senang sekali anaknya dapat bersekolah dengan gratis walaupun hanya tingkat SD. "Kalau saya nggak sekolah, suami saya SMA. Anak saya pengen sekolah terus. Dia gratis sampai kelas 6 SD," katanya. (ram)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »