getting time...

Tolak Bala, Warga DIY Sembelih Kerbau Jantan

Tri Kurniawan - Okezone
Senin, 8 November 2010 21:52 wib
Ilustrasi (Foto: daylife)
Ilustrasi (Foto: daylife)

YOGYAKARTA - Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin resah dengan ancaman bencana hebat yang kabarnya terus tersebar. Padahal, saat ini pun mereka masih harus menelan pil pahit akibat erupsi Gunung Merapi yang telah merenggut seratusan jiwa di sana.

Mereka yang meyakini adanya kepercayaan menolak bala pun menggelar upacara. Seekor kerbau dikorbankan untuk diserahkan kepada alam.

Acara yang digelar di Tugu Yogyakarta itu dimulai dengan Tari Serimpi yang diiringi musik gamelan. Sekira pukul 20.30 WIB, para penari mulai beraksi di depan ratusan anggota Paguyuban Tritunggal dan warga DIY sudah berkumpul di lokasi.

Setelah tarian sacral itu selesai, dilanjutkan dengan pembacaan Mantra Kalacarakal dan penyembelihan kerbau. Sebelumnya, saat prosesi kirab, sekira 300 peserta dan warga membawa lentera, ayam jago, kerbau, dan boneka, sekira dua kilometer.

Kerbau yang disembelih adalah satu ekor kerbau jantan perjaka. Selain itu ada juga 99 boneka dari singkong, sembilan ekor ayam jagi wiring kuning, dan tumpeng.

"Acara ini intinya buat Maheso Luwung Sajirojosonyo. Diselenggarakan untuk tolak bala ketika terjadi acaman bencana, terkait dengan peradaban, ekonomi, kebudayaan, dalam hal ini kaitannya dengan Merapi yang mengakibatkan kepanikan masyarakat Yogya," papar Ketua Paguyuban Tritunggal Romo Sapto, Senin (8/11/2010).

Setelah disembelih, kepala, kaki, dan ekor kerbau dan ayam akan ditanam di daerah Kaliurang, malam ini. Sedangkan daging lainnya akan diberikan kepada pengungsi.

"Ini dilakukan untuk terapi bagi masyarakat Yogya. Maheso Luwung itu kerbau yang dipotong untuk menepis anggapan prediksi tokoh nasional dan tokoh spiritual yang menganggap Yogya akan lebur," paparnya.

Tugu Yogyakarta dipilih sebagai lokasi acara karena dianggap sebagai simbol mitologi, kosmologi, dan teologi orang Jawa. Tugu itu merupakan garis lurus dari Merapi hingga ke Keraton dan Laut Kidul.

"Yogya saat ini seperti dihakimi. Dulu, kita juga pernah lakukan ini waktu Yogya diterjang badai. Ini permohonan masyarakat dan harus secepatnya dilaksanakan karena merapi tidak pernah ingkar janji," tandasnya.

(lam)

  • farrel » 0 Tanggapan
    klo mau siiippp..... kerbaunya diganti dengan onta atau gajah sekalian!. Tobat...tobat, bodoh.... kok di ulang2. Nyuwun ngapunten gusti.........hambamu yg bodoh dan lemah ini......
    Beri Tanggapan Laporkan
  • truthseeker » 0 Tanggapan
    "HEI RAKYAT JOGJA..." kalau bapak nyebut semua warga jogja kayak gitu ya sama aja fitnah wong itu cuma beberapa, gak semuanya... rasah sok suci sik pak nek ra iso mikir
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Wong Yoja » 0 Tanggapan
    Pray for Indonesia? Shame on Indonesia!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • sendal karet » 0 Tanggapan
    dasar manusia!! masih juga percaya pada syithon sudah dikasi azab yg harusnya sadar diri... tunggu aja kehancurannya...
    Beri Tanggapan Laporkan
  • kang mardi » 0 Tanggapan
    MERAPI LAGI ZIKIR, NANGING KARO SEBAGIAN WARGO NGAYOGYA MALAH DIBELEHKE KEBO BULE. WARGO YOGYA KUDUNE NGANAKKE ZIKIR GEDEN-GEDEN NENG ALUN-ALUN SUPOYO MERAPI ORA MBEBAYANI AWIT IJINING GUSTI. Kang Mardi, Moyudan Sleman.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.