JAKARTA - Shinta Wahid, istri Abdurahman Wahid menerima lukisan bergambar 'Gus Dur' dari Setara Institute. Sesaat menerima lukisan, Shinta menumpahkan perasaannya menjadi beberapa patah.
"Hampir selama hidupnya, dia hidup untuk membela kebenaran. Selama itu dia tidak terlepas dari hambatan dan rintangan mulai dari fisik, tekanan moral, caci-maki sampai ancaman. Tapi tak pernah menyurutkan niat untuk membela kebenaran," paparnya di Jakarta, Senin (10/1/2011).
"Setahun sudah kita ditinggal Gus Dur, selama ini juga masih ada kekerasan yang membelenggu. Hampir steiap hari ada kekerasan atas nama agama. Mereka diancam jiwanya, mereka tidak bisa melakukan ibadah di negaranya sendiri yang dulu sama-sama merebut kemerdekaan dari penjajah denga slogan "Merdeka atau Mati," ungkap Shinta Wahid.
Menurutnya, saat ini kaum kecil kehilangan tempat dan minoritas kehilaangan tempat untuk bergayut. Dalam keadaan seperti ini kian menambah kerinduan sosok Gus Dur.
Gus Dur yang berani teriak lantang untuk membela kebenaran. Gusdur yang berani teriak jujur untuk mengungkap kebenaran yang disembunyikan di balik kesalehan palsu. Gus Dur yang menanamkan benih-benih pluralisme.
Namun setlah Gusdur tak ada, benih ini terancam oleh kerakusan dan keangkaramurkaan. "Ini saatnya bangkit bersama menata kehidupan, membulatkan tekad untuk merwat benih-benih dari Gus Dur. benih ini yg jadi mpt bergantung warga dan tindakan inilah yang akan membuat Gus Dur bangga di sana," jelas dia.
Ucapan Shinta Wahid ini meluncur setelah Setara Institute, memberikan lukisan bergambar Gus Dur dengan warna hitam-putih ukuran 80x50cm dalam rangkaian acara dengan bertajuk deradikalisasi agama untuk pemenuhan hak konstitusional warga negara dan jaminan kebebasan beragama, berkeyakinan di Hotel Atlet Century, Jakarta, Senin (10/1/2011).
(Dadan Muhammad Ramdan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.