tragedi sukhoi

Honor Kurang, Dokter Ahli Kompak Tinggalkan Aceh

Salman Mardira - Okezone
Selasa, 11 Januari 2011 20:05 wib
wordpress (ilustrasi)
wordpress (ilustrasi)

BANDA ACEH – Sikap tak patut ditiru diperlihatkan para dokter ahli bertugas di Rumah Sakit Umum (RSU) Yulidin Awai, Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.
 
Karena insentif bulanannya dikurangi, mereka kompak mengundurkan diri dari RSU tersebut dan meninggalkan Aceh Selatan. Akibatnya, warga di daerah itu kini kelimpungan untuk mendapat pelayanan kesehatan.
 
“Warga sangat resah, karena dokter-dokter spesialis itu sekarang sudah meninggalkan Aceh Selatan,” kata anggota DPRK Aceh Selatan Abdullah saat dihubungi okezone, Selasa (11/1/2011).
 
RSU Yulidin Awai satu-satunya RS di Aceh Selatan, hanya memiliki delapan dokter ahli yang kini semua sudah hengkang dari sana.
 
Menurut Abdullah, sebelum meninggalkan Aceh Selatan, para dokter itu meninggalkan surat pengunduran diri dari RSU itu dan sejak Senin lalu tak satu pun di antara mereka berdinas.
 
Pasien di RSU Yulidin Awai saat ini hanya ditangani dokter umum. “Masyarakat juga tidak bisa lagi berobat ke tempat praktek dokter spesialis, karena mereka tidak ada lagi di sini,” ujarnya.
 
Dokter yang hengkang itu yakni Edy Geumelang Daulay (Spesialis anak), Junaidi dan Yensuari (Penyakit dalam), Raja Chair Lubis (Mata), Eko C Burnama (THT), Sabri (Kandungan dan kebidanan), Hary Riadi (Patologi klinik) serta Edi A Syahputra (Ahli bedah).
 
Kisruh di RS milik Pemkab Aceh Selatan meruncing sejak pekan lalu. Para dokter spesialis di sana mogok bertugas, sehingga berdampak pada lumpuhnya pelayanan kesehatan di Kabupaten penghasil Pala itu.
 
Aksi protes para dokter buntut dari kebijakan Pemkab setempat yang mengurangi insentif mereka dan membatasi dana operasional RSU Yulidin Awal. Tahun lalu, dokter ahli di sana mendapat insentif Rp17 juta perbulan, sementara 2011 intensif mereka hanya dibayar Rp8 juta perbulan.
 
Pemkab Aceh Selatan bersikukuh kebijakan itu tak bisa diubah lagi karena APBK 2011 sudah disahkan. Pemkab menjanjikan menampung kekurangan itu dalam APBK Perubahan nanti dan meminta pihak RSU bersabar.
 
“Pemkab seperti santai saja menghadapi hal ini, kami sangat sesalkan ini,” kata Abdullah yang politisi Partai SIRA (Partai Lokal di Aceh). Dia mengaku tak setuju dengan APBK 2011 dan sebelumnya mengaku sudah meminta Ketua DPRK untuk tak mensahkannya dulu, karena permintaan pihak RSU belum dipenuhi.
 
“Sekarang kami sedang mencari dukungan antar-Parpol untuk menyurati Gubernur dan Presiden dan meminta APBK Aceh Selatan 2011 dikoreksi lagi, agar keinginan para Rumah Sakit tertampung, sehingga masalah ini tidak berlarut,” lanjut anggota Fraksi Demokrat itu.

(teb)

  • muhammad muhrodji » 0 Tanggapan
    saya dukung tindakan para dokter spesialis.......supaya Pemda dairah lain hati hati dalam membuat Perda>>>>>"Dokter juga Manusi"
    Beri Tanggapan Laporkan
  • siti muawanah » 0 Tanggapan
    sangat tdk manusiawi dokter2 tsb,akhir zaman...apakah sdh tdk ada dokter yg niat murni menolong masyarakat,semua dinilai dgn uang....!!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • billy » 0 Tanggapan
    dokter memang salah tapi yang lebih salah lagi pihak rsu,,dokter berhak atas hak yang mereka lakukan atas kwalitas dan pengorbanan mereka atas masyarakat,,,ingat mereka sudah memberi diri di tempat terpencil dan jauh dari kota besar,,,,
    Beri Tanggapan Laporkan
  • YYY » 0 Tanggapan
    YG MENGECAM TINDAKAN DOKTER2 DI ACEH ITU SANGAT TDK MANUSIAWI..DOKTER TDK HANYA PUNYA KEWAJIBAN TAPI JG PUNYA HAK..DAN TINDAKAN MEREKA BENAR KRN MENUNTUT HAKNYA...
    Beri Tanggapan Laporkan
  • dhyant » 0 Tanggapan
    Dokter juga perlu makan mas.. perlu nyekolahin anak.. perlu rumah buat tinggal.. emangnya bisa bepikir jernih mo ngobatin penyakit klo perut lapar..
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.