Sepak bola telah menjadi ladang menjanjikan bagi biliuner global untuk menambang emas. Namun, para pengusaha itu tidak bisa seenaknya menjalankan “mainan” mereka. Layaknya unit bisnis lain, strategi wajib diterapkan.
Prospek bisnis klub sepak bola makin menjanjikan. Ini terlihat jelas dari berkembangnya jumlah pemilik asing anggota Liga Primer. Mereka sadar modal yang ditanamkan bisa berlipat ganda karena populernya kompetisi tersebut. Sebagai gambaran,harga hak siar Liga Primer di seluruh dunia mencapai 2,7 miliar pounds.Padahal,nilai hak siar televisi di awal kelahiran ajang itu (1992/1993) hanya sebesar 304 juta pounds selama lima tahun. “Minat pemirsa global terhadap Liga Primer bakal meningkat seiring waktu. Ini memperkuat posisi nilai jual klub Inggris. Kami yakin jumlah pengusaha yang berminat memiliki klub akan bertambah,” tutur Direktur Divisi Bisnis Olahraga Deloitte Paul Rawnsley. Mulai 2003, Liga Primer tercatat hanya memiliki satu pemilik impor. Itu pun dia sudah lebih satu dekade tinggal di Inggris.
Sosok tersebut tidak lain adalah Mohamed al-Fayed, pebisnis kaya asal Mesir yang mendulang harta berkat kegemilangannya menjalankan Harrods Department Store. Setelah Al-Fayed, investor asing mulai menjamur di Inggris. Datang Roman Abramovich yang kemudian merevolusi Liga Primer berkat kebijakannya menghamburkan ratusan juta pounds demi menjadikan Chelsea sebagai kekuatan baru di Inggris dan Eropa. Kemudian Malcolm Glazer, Randy Lerner, sampai yang paling sensasional Sheikh Mansour bin Zayed bin Sultan al-Nahyan pun menyusulnya. Pengusaha Indonesia dan Asia Tenggara juga tidak mau tertinggal.
Meski bukan klub Liga Primer, keputusan Iman Arif membeli saham wakil Championship Leicester City bersama koleganya asal Thailand Aiyawatt Raksriaksorn, menunjukkan kepercayaan mereka terhadap cerahnya masa depan bisnis sepak bola Inggris. Sementara pengusaha Singapura Peter Lim pernah menawar Liverpool. Namun, proposalnya ditolak. Liverpool lalu dikuasai John W Henry yang mengambil alih takhta klub dari kompariotnya Tom Hicks-George Gillett melalui pertarungan sengit di pengadilan. Tentu, investor asing ada yang tidak bertahan lama. Hicks-Gillet dan masa kepemimpinan singkat Thaksin Sinawatra di Manchester City (Man City) adalah contohnya.
Namun, kepergian mereka lebih disebabkan faktor tertentu, bukan karena tidak menjanjikannya bisnis sepak bola. Hicks-Gillett tidak becus menjalankan Liverpool sehingga klub Merseyside tersebut terus berutang. Mereka akhirnya dipaksa menjual Liverpool. Sementara Sinawatra terjerat pelanggaran hak asasi manusia yang menjadikannya buronan. Beberapa keputusan membeli klub sepak bola bukan atas dasar kecintaan terhadap si kulit bundar, melainkan murni demi mencari fulus. Malcolm Glazer, misalnya. Pengusaha asal Amerika Serikat (AS) ini menjadikan Manchester United (MU) sebagai tambang emas sejak dibeli pada 2005 dengan dana sebesar USD1,47 miliar.
Ratusan juta dolar berhasil dikeruk setiap musimnya hasil dari hak siar, iklan, sampai penjualan tiket dan merchandise yang membuat Setan Merah –sebutan MU– sebagai klub terkaya di dunia. Berdasarkan analisa, MU menerima pemasukan 39% dari tiket. Sementara hak siar menyumbang 36%. Lalu, penjualan merchandise 25%. Glazer dipastikan akan terus mendapatkan keuntungan. Maklum, Club TV Channel yang menayangkan pertandingan MU disiarkan ke 192 juta rumah. MU memiliki 333 juta penggemar dan 139 juta penggemar klub. Uang sebesar USD34 juta diraih dari kerja sama dengan Aon selama empat tahun. Kontrak bersama Nike selama 13 tahun hingga 2015 menghasilkan USD470 juta.
Dari hak siar didapat USD164 juta, tertinggi di antara peserta Liga Primer lainnya. Tidak mengherankan jika setiap musimnya bisa meraup keuntungan lebih dari USD100 juta. Nyatanya, tahun lalu surplus hingga USD150 juta. Demi meningkatkan pamor MU, Glazer sampai berhutang hingga USD839 juta. “Di penjuru dunia, penggemar sepak bola tidak pernah berhenti mendukung tim idolanya serta para pemain. Mereka akan selalu hadir menyaksikan pertandingan. Ini mendatangkan untung besar bagi pemilik klub,” tutur Wakil Presiden Global Media and Sports Marketing, Anheuser-Busch, Inc Tony Ponturo dikutip times online. Pemilik klub lain tidak ubahnya dengan Glazer. Roman Abramovich, misalnya.
Taipan minyak itu mengubah Chelsea seperti “sirkus”. Terbukti, sejak dibeli pada 2003, dia tidak henti-hentinya merombak wajah klub London Barat itu dengan membeli pemain-pemain mahal meski harus merogoh kocek dalam-dalam. Abramovich tidak peduli dengan kondisi Chelsea selama hasratnya terpenuhi. Bukti terbaru sudah ada, yakni pembelian Fernando Torres dari Liverpool seharga USD80 juta dan David Luiz dari Benfica senilai USD33 juta kendati The Blues –menderita kerugian hingga USD112 juta. Padahal, perekrutan El Nino –sebutan Torres– dianggap tidak diperlukan. Sang bos besar memang punya kebiasaan merekrut pemain-pemain yang diminatinya, bukan yang diperlukan Chelsea.
Ini mulai dari Andriy Shevchenko, Adrian Mutu, Juan Sebastián Verón, sampai Mateja Kezman yang akhirnya gagal bersama klub. Itu diperparah lantaran Abramovich terlalu memanjakan pemainnya dengan memberi gaji besar. Akibat hobi gilanya itu, Chelsea terus-menerus menderita kerugian sekalipun Abramovich ikut membantu. Faktanya, pada 2005 defisit sebesar USD140 juta. Tahun selanjutnya meningkat menjadi USD225 juta. Berikutnya menembus USD130 juta. Sementara pada 2008 mendekati USD120 juta. Ada lagi sosok Mansour bin Zayed Al Nahyan. Kedatangannya ke City of Manchester Stadium pada September 2008 mentransformasi Manchester City (Man City) sebagai klub boros.
Hampir sama dengan Abaramovic, pengusaha minyak asal Uni Emirate Arab itu gemar membeli pemain bintang dengan harga mahal demi meningkatkan popularitas Man City. Sepanjang musim 2010–2011 saja Mansour sudah mengeluarkan USD230 juta untuk membeli tujuh pemain. Sebelumnya, dia mengucurkan USD190 juta demi mendatangkan 10 nama baru yang sayangnya tidak diimbangi prestasi. Saat itu The Citizen –julukan Man City– bertengger di posisi lima. Semua itu menunjukkan bahwa kebanyakan pemilik klub hanya mementingkan keuntungan atau obsesi pribadinya. Alhasil, klub terkena imbasnya.
Bahkan sampai bangkrut akibat salah kelola seperti Portsmouth. Diduga ini akibat sebagian besar owner bukan warga Inggris yang konon mencapai 11 orang.
(SINDO//mbs)