tragedi sukhoi

NEWS » Fokus

Bisnis si Kulit Bundar (2)

Menyehatkan Klub dengan Financial Fair Play

Senin, 7 Februari 2011 14:21 wib

PRESTASI instan rupanya bukan sesuatu yang diingini dalam tradisi sepak bola. Prestasi tetap diharapkan lahir dari sebuah proses dan pembinaan pemain, bukan dari pembangunan dinasti tim dalam waktu semalam.

Jagat sepak bola sempat digegerkan dengan pembelian gila-gilaan yang dilakukan Chelsea. Untuk membeli prestasi, klub berjuluk The Blues tersebut menggelontorkan dana dalam jumlah yang di luar akal dalam beberapa musim terakhir. Fakta bahwa Chelsea mampu membeli pemain top, sebarapapun harga yang ditawarkan tak lepas dari keberadaan sang pemilik klub, Roman Abramovich. Sejak ia berkuasa, sejumlah pemain bola kesohor dengan mudah digiring ke Stamford Bridge. Andriy Shevchenko, dan baru-baru ini Fernando Torres adalah dua figur pebola bertaraf bintang lima yang sukses dilabuhkan. Uang terkadang memang bisa membeli apapun, termasuk prestasi. Tapi, sikap jor-joran sejumlah klub Eropa sebagaimana kasus Chelsea dalam pembelanjaan pemain, mengundang keprihatinan.

Lantaran tak memerhatikan antara kas masuk dan keluar klub, terkadang aksi boros membelanjakan uangnya di bursa transfer membuat klub menjadi merana. Lilitan utang gantian menghantui. Sadar bahwa situasi seperti tersebut di atas tak bisa dibiarkan, UEFA, selaku otoritas tertinggi sepak bola Eropa turun tangan mengendalikan keaadaan. Setelah melewati beragam pertimbangan, UEFA pun mengenalkan apa yang dinamakan UEFA Financial Fair Play rules. ”Kesepakatan untuk menyetujui aturan ini menjadi awal langkah penting klub-klub Eropa dalam mengatur keuangannya. Kami ingin menciptakan stabilitas dan mengembalikan lagi kesadaran bersama dari sisi ekonomi ke dalam sepak bola,” ungkap Ketua Asosiasi Klub Eropa (ECA) Karl- Heinz Rummenigge menyambut aturan ini.

”Ini merupakan sebuah pencapaian besar. Dan dari hati terdalam Asosiasi Sepak Bola Eropa, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada UEFA dan terutama Michael Platini atas inisiatif ini. Saya yakin, kita semua dalam sebuah langkah yang benar.” UEFA Financial Fair Play rules, atau dalam bahasa sederhananya aturan keuangan klub menjadi semacam pengontrol keuangan klub-klub Eropa. Misi besar dari dibuatnya kebijakan ini adalah agar supaya ke depan, klub-klub di Eropa dapat lebih sehat secara keuangan. Aturan yang mulai diterapkan pada 2012 ini secara konseptual mendorong klub bisa mencapai semacam ”break-even-point”, di mana seluruh klub-klub dilarang lagi membelanjakan penghasilan klub mereka melebihi pemasukan.

Bagi klub-klub seperti Chelsea, yang baru saja mengeluarkan dana hingga  70 juta pounds dalam transfer window lalu, dan Manchester City yang kehilangan pemasukan tahunan sebesar 121,3 juta pounds, aturan baru UEFA ini menjadi semacam alarm bagi mereka. Dalam penerapan awal aturan Financial Fair Play, nantinya klub-klub masih diberikan toleransi kerugian hingga mencapai 38,5juta pounds pada awal tahap monitoring 2011/2012 dan 2012/2013. Namun, jika klub tak memenuhi target, mereka masih bisa terhindar dari sanksi sejauh kerugian bisa dikurangi atau jika mengalami overspending yang disebabkan fee transfer dan gaji sebelum 2010.

Aturan yang dicetuskan UEFA sepertinya datang dalam waktu tepat, karena nilai kerugian klubklub Eropa sepertinya terus meningkat. Dalam catatan UEFA menyebutkan, bahwa agregat kerugian klub-klub top Eropa mencapai 578juta euro. Sebanyak 65% dari pendapatan dibelanjakan rata-rata untuk menggaji pemain dan 47% klub dilaporkan merugi. Dari nilai agregat kerugian tersebut, klub-klub Inggris sepertinya menyumbang angka terbesar, mengingat Liga Primer membelanjakan uangnya melebihi dari kombinasi belanja yang dilakukan sejumlah klub top Spanyol, Italia, Jerman dan Prancis dalam transfer.

Dan ironisnya, dari 80% total belanja senilai 225 juta pounds dalam transfer window Januari di Inggris, hanya digunakan untuk membeli enam pemain yang dilakukan oleh empat klub saja.
(SINDO//mbs)