tragedi sukhoi

NEWS » Fokus

Bisnis si Kulit Bundar (3)

Di Spanyol, Uang Bukan Segalanya

Senin, 7 Februari 2011 15:48 wib

BERBEDA dengan Inggris, Italia, Jerman, Prancis, Belanda, maupun liga-liga papan atas di Amerika dan Asia; klub sepak bola Spanyol bukan milik perseorangan, perusahaan, maupun pemerintah.

Klub-klub Negeri Matador dikelola seperti layaknya sebuah negara. Mereka menggunakan istilah socios, semua saham klub dimiliki anggota yang otomatis merupakan suporter. Socios memiliki hak menentukan masa depan tim dengan memilih presiden, dewan direksi, dan dewan pengawas. Setiap orang, baik warga negara Spanyol atau asing serta dari kalangan mana pun, bebas dan memiliki hak menjadi anggota. Untuk menjadi anggota, setiap orang diwajibkan membayar iuran tahunan yang besarannya ditentukan kesepakatan bersama. Barcelona, contohnya, setiap anggota harus mengeluarkan iuran 140 euro per tahun.

Dengan anggota yang mencapai 170.000 orang pada 2010, El Azulgrana mendapat dana awal sebagai modal kompetisi sebesar 23,8 juta euro. “Tugas presiden adalah membawa klub ini meraih kejayaan seperti yang diinginkan semua pendukung. Dengan klub yang dibangun atas dasar kepercayaan para pendukung, tantangan seorang pemimpin klub sangat besar. Setelah yang telah dijalankan Joan Laporta, kini kami harus meningkatkan prestasi itu,” papar Sandro Rosell beberapa saat setelah dipilih menjadi presiden baru Barcelona menggantikan Laporta, dikutip Sport. Dengan sistem seperti itu, Barcelona maupun klub-klub Spanyol lain mampu eksis sejak akhir abad 19 hingga kini. Dengan kepemilikan saham bersama,stadion-stadion di Spanyol selalu dipenuhi para pendukung. Kepemilikan saham bersama juga membuat kondisi manajemen selalu sehat.

Setiap akhir musim, socios akan menggelar rapat evaluasi menyeluruh tentang prestasi tim maupun kondisi keuangan. Bila ternyata target yang ingin dicapai gagal terwujud, socios dapat meminta tanggung jawab presiden klub. Untuk menjadi seorang presiden, seseorang harus tercatat sebagai anggota klub. Orang yang mencalonkan menjadi presiden juga harus menyetorkan bank guarantee dengan jumlah yang ditentukan komisi pemilihan klub.Seperti proses pemilihan umum (pemilu) di sebuah negara,calon presiden klub juga melakukan kampanye, debat publik, hingga mengajukan proposal kerja. Pada hari pemilihan, semua anggota klub datang ke tempat yang ditentukan untuk memilih presiden baru.

Sejarah terkini klub-klub Spanyol menunjukkan bahwa Madrid tergolong tim yang cukup sering mengganti presiden. Sejak 2000, lima orang sudah menjadi pemimpin Los Blancos. Bahkan, presiden saat ini Florentino Perez sempat menjabat pada 2000–2006. Flores kala itu harus didepak setelah proyek Los Galacticos gagal. Pengganti Flores, Ramon Calderon, juga harus lengser di tengah jalan karena justru menjerumuskan Madrid ke masa-masa kering prestasi. “Saya akan mengembalikan era kejayaan Madrid. Kehadiran saya adalah untuk meneruskan tugas yang belum selesai di periode yang lalu. Dengan dukungan penuh, saya sangat percaya Madrid akan kembali menjadi klub terbaik, tidak hanya di Spanyol maupun Eropa,melainkan juga dunia,” janji Perez beberapa saat setelah memenangkan pemilihan presiden Madrid yang dikutip Marca.

Selain lebih demokratis,sistem socios juga menjamin kelang-sungan finansial klub. Selain berasal dari iuran rutin 170.000 anggotanya, Barcelona, misalnya, juga mampu meraup dana besar dari siaran televisi, sponsor, tiket pertandingan kandang, hadiah Liga Champions, serta penjualan produk merchandise. Loyalitas plus pengorbanan besar socios membuat Barcelona tidak pernah mengalami kesulitan keuangan meski ekonomi global sedang dilanda krisis berkepanjangan. Pada 2010, majalah bisnis Forbes menulis Barcelona memiliki aset 752 juta euro. Jumlah itu membuat Barcelona di peringkat empat di bawah Manchester United (MU), Real Madrid, dan Arsenal.

Sementara Deloitte menyebut Barcelona mendapat pemasukan 366 juta euro atau nomor dua setelah Madrid (401 juta). Pemasukan Barcelona akan bertambah karena mulai musim depan, Qatar Foundation akan menjadi sponsor utama. Lembaga sosial asal Qatar itu telah mengikat kontrak 150 juta euro selama lima tahun. Tidak hanya nilai-nilai demokrasi maupun kondisi finansial yang sehat, sistem socios juga membuat klub-klub Spanyol tidak hanya berkecimpung di satu cabang olahraga. Selain sepak bola, biasanya mereka juga aktif berkompetisi di bola basket, futsal, bola tangan, bola voli,olah raga air, hingga atletik.

Beberapa klub juga memiliki tim balap mobil single setter sejenis Formula 1 yang tampil di ajang Superleague Formula. Dua klub itu adalah Atletico Madrid dan Sevilla. Klub-klub Spanyol juga terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan maupun politik. Dengan semboyan Mes Que un Club (More Than a Club), Barcelona sejak Laporta berkuasa mencantumkan logo dan tulisan Unicef di kostum dada.Mereka menyumbang 2 juta euro per tahun. Begitu pula Atheltic Bilbao yang dikenal sebagai alat propaganda pendukung gerakan kemerdekaan Basque.

Sementara Madrid selama era kediktaktoran Francisco Franco menjadi alat kampanye Nasionalisme Spanyol (Spanyolisasi).
(SINDO//mbs)