Ada yang Aneh di Vihara Amurva Bhumi

|

Vihara Amurva Bhumi (Ist)

 Ada yang Aneh di Vihara Amurva Bhumi

JAKARTA - Vihara atau klenteng ternyata tidak hanya sekadar tempat beribadah biasa. Tapi sebagaian klenteng di Indonesia masih kental dengan nuansa kleniknya.

Salah satunya di Vihara Amurva Bhumi (Hok Tek Tjeng Sin), di Jalan Satrio Raya No 2, Kuningan, Jakarta Selatan. Penasaran dengan vihara yang satu ini? Okezone pun menyambangi tempat tersebut. Sepintas memang hampir sama dengan vihara lainnya yang berada di Jakarta. Di Vihara Amurva Bhumi, banyak terdapat lilin dan bau khas lio yang dibakar. Sebuah pohon rengas berumur ratusan tahun menghiasi tepat di depan vihara itu.

“Dulu ada dua lagi pohon rengas berukuran besar, namun pohon tersebut tumbang oleh angin,” ujar Pak Rom, warga sekitar kepada okezone, belum lama ini.

Ditambahkan Rom, pohon tersebut tepat berada di samping vihara. Namun anehnya ketika kedua pohon tersebut tumbang tidak menimpa vihara tersebut melainkan jatuh ke samping. ”Secara logika, pohon tersebut jatuh tepat ke vihara, namun ini malah ke samping,” tuturnya.

Vihara Amurva Bhumi memiliki luas 2.000 M2 dan terletak di kawasan segitiga emas. ”Dulu vihara ini berselisih dengan salah satu bank swasta. Anehnya bank tersebut rontok duluan,” ujar Koh Eng mantan pengurus Vihara Amurva Bhumi.

Menurut Koh Eng, tempat ibadah ini sudah berdiri sejak 92 tahun yang lalu. Tidak seperti vihara lainnya, selalu penuh pengemis yang meminta angpau, Vihara Amurva Bhumi ini bisa dikatakan bebas dari pengemis. "Kami selalu membertikan bantuan kepada warga sekitar sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu di Vihara Gayatri di Jalan Cilangkap RT 003/RW 003, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Depok, memiliki keunikan lainnya. Di vihara tersebut terdapat tujuh sumur yang di dalamnya terdapat air suci yang diyakini sebagian masyarakat Tiong Hoa Depok dan sekitarnya.

Menjelang perayaan tahun baru Imlek, banyak warga yang menjalani ritual mandi ci sua atau buang sial di sana. Menurut kepercayaan kejawen, ritual mandi ci sua dilakukan setiap malam Selasa Kliwon dari penanggalan Jawa.

Selain itu, terdapat tiga bangunan tempat ibadah, yaitu untuk umat Budha, Hindu, dan Islam. Tata cara berdoa dilakukan sesuai kepercayaan. Hanya, ada ketentuan tertentu yang tidak boleh dilanggar. Posisi duduk antara laki-laki dengan perempuan juga berbeda.

(ram)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Ketika Bupati dan Perwira Polisi Menangis di Pangkuan Ibu