Ogoh-Ogoh, Pesan Agama dalam Balutan Kreativitas

Ogoh-ogoh (Foto: Heru/Okezone)

Ogoh-Ogoh, Pesan Agama dalam Balutan Kreativitas
DENPASAR - Perayaan Nyepi selalu diramaikan dengan kehadiran ogoh-ogoh yang diarak pada malam pengrupukan menjelang Hari Raya Nyepi.

Meski sifatnya tidak ada kaitannya dengan tapa brata penyepian namun hasil kreativitas seka teruna atau anak muda di banjar-banjar akhirnya bisa masuk menjadi bagian dari prosesi Nyepi.

Begitu memasuki sasi kadasa dimana hari Nyepi, anak-anak muda sibuk membuat patung raksasa, Ogoh-Ogoh cukup yang bisa ditemui sampai di pelosok Bali.

Di setiap banjar baik di kota ataupun desa, tamil dengan aneka macam bentuk dan rupa. Di satu banjar, misalnya, mereka tak hanya membuat satu ogoh-ogoh. Ada yang dibuat oleh seka teruna (kelompok pemuda) ada pula yang dibuat oleh seka anak-anak (kelompok anak-anak).

Awalnya, pembuatan ogoh-ogoh menggunakan anyaman bambu dikerjakan seluruh pemuda pemudi banjar namun kini, tren pembuatan ogoh-ogoh telah berubah. Anyaman bambu sebagai kerangka, kini telah beralih ke gabus. Alasannya, desain ogoh-ogoh lebih bagus dan lebih cepat pembuatannya.

Cara pembuatannya hanya menggunakan cutter (pisau potong). Gabus yang sudah berbentuk akan ditempeli dengan kertas atau dicat. Agar kuat, kerangka ogoh-ogoh terbuat dari besi.

"Pembuatan ogoh-ogoh dengan bahan gabus lebih mahal dibanding bambu namun kita bisa mendesain bentuk sesuai yang diinginan," ujar I Wayan Winadi, salah seorang anggota seka teruna di Kota Tabanan, Bali.

Dia mengatakan, ogoh-ogoh berbahan baku gabus juga punya kelemahan, seperti mudah patah. Disamping itu, yang bisa membuat ogoh-ogoh berbahan gabus juga masih bisa dihitung dengan jari. Namun dengan ketrampilan yang dimiliki anak-anak muda itu mampu menyulap gabus itu menjadi patung, baik patung berbentuk rangda, bedogol ataupun dewa.

Ogoh-ogoh pun dipajang di pinggiran jalan karena akan segera diarak dan dibakar beramai-ramai. Dengan beraneka bentuk dengan wajah sangar atau seram si buta kala, berukuran raksasa, warga yang melintas nampak tertarik dan mengabadikan lewat foto-foto tak jarang anak-anak sampai orang tua, berfoto di belakang ogoh-ogoh.

Hanya saja, ogoh-ogoh yang telah berkembang pesat dan sesuai dengan trend zaman, tetap saja tidak boleh meninggalkan pakem atau aturan baku. Menurut tokoh Hindu yang menjabat Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Bali, Ida Bagus Wiana, ogoh-ogoh bisa masuk dalam rangkaian prosesi Nyepi, dengan catatan dibingkai dengan nilai-nilai agama Hindu.

"Di Bali ada tata nilai umat Hindu yang berproses dalam kehidupan ini termasuk kindahan, memang tidak bisa dilepaskan adanya hasil kreativitas. Karena itu, kita buatkan aturannya sehingga bisa menjadi bagian atau tata urutan dari perayaan nyepi," ujar Wiana dalam perbincangan dengan okezone.

Konsep ogoh-ogoh sendiri harus berpegang pada bentuk buta kala yakni sifatnya yang mengganggu manusia terkait tapa brata penyepian. "Seperti kita ketahui saat tapa brata penyepian itu, segala sifat kejahatan yang melekat pada buta kala harus dibersihkan dari diri manusia," katanya.

Bagaimana ibadah Nyepi itu, umat Hindu harus meninggalkan nafsu angkara muka sebagaimana sifat buta kala yakni tidak menyalakan lampu untuk menekan keinginan nafsu seks yang tingi, makan dan minum berlebihan, mendengarkan suara atau musik hingga minum-minuman, hingga berjudi.

"Sifat buta kala ini dibuatkan lewat bentuk buta kala, karena itu kita kembalikan ke wujud kedewataannya sehingga jika dikaitkan dengan konteks kekinian maka masuk akal jika kemudian banyak muncul kreativitas bentuk ogoh-ogoh," katanya.

"Agar tidak melanggar ketentuan maka ogoh-ogoh harus dimasukan nilai-nilai magis atau agama, jadi tidak sekedar hura-hura. Kita arahkan agar ogoh-ogoh bisa dibingakai pesan-pesan agama dan nilai keindahan, sehingga semua bisa menikmati dan bisa berjalan menjadi bagian dari prosesi Nyepi," kata dia.

Dia menambahkan, jika kreativitas sudah melenceng dari teks dan konteks seperti dalam kasus ogoh-ogoh dengan wajah Gayus Tambunan, menurut dia, hal itu sudah keluar dari pakem dan aturan.

"Kalau ogoh-ogoh Gayus, itu sudah keluar dari konteks penyepian, apapun bentuknya mesti harus ada teks dan konteks, kalau ogoh-ogoh Gayus, itu sudah tidak kelihatan buta kalanya, " ungkapnya sembari berharap agar tidak mempersonfikasika orang dalam bentuk patung karena itu akan membuat ketersingguhan pihak lain dan bisa melanggar HAM.
(ded)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Berlatih Jadi Perawat Sejak SMK