DEMAK - Seorang bayi penderita bibir sumbing diduga telah menjadi korban Malpraktik di Rumah Sakit Umum Daerah Sunan Kalijaga, Demak, Jawa Tengah.
Akibatnya, lubang hidung bayi tersebut membesar hingga sebesar telur ayam sebab semua jahitan yang merekatkan bibir atas dan hidung lepas. Kini lubang besar menganga mulai dari hidung hingga mulutnya.
Dwi Zahrotul Sito, bayi berusia 7 bulan ini selalu menangis kesakitan setelah menjalani operasi bibir sumbing di Rumah Sakit Umum Daerah Sunan Kalijaga Demak Jumat pekan lalu. Namun, operasi tersebut diduga gagal karena beberapa hari setelah dioperasi semua jahitan lepas hingga bibirnya terlihat semakin robek.
Orang tua Dwi, Sukari dan Dewi Nuraini, warga desa Kalianyar kecamatan Wonosalam ini pun memaksa pulang karena tak puas dengan pelayanan rumah sakit.
Menurut Dewi Nuraini, operasi yang dilakukan pada anaknya hanya merekatkan dua tepi bibir atas yang berlubang. Penyambungan dilakukan dengan cara menyumpal lubang tersebut dengan gumpalan daging yang menempel di ujung hidung. Setelah dioperasi lubang hidung menjadi sangat kecil, sementara mulutnya juga terlihat menyempit.
Oleh dokter yang mengoperasinya. Dwi diijinkan pulang pada hari minggu atau dua hari setelah operasi. Namun pada hari yang sama, tiba-tiba keluar banyak darah dari bekas jahitan. Setelah diperiksa, ternyata semua jahitan terlepas. Oleh pihak rumah sakit Dwi disarankan untuk menjalani operasi lagi pada hari Selasa lalu.
Namun saran tersebut ditolak mentah-mentah pihak keluarga, karena trauma atas operasi gagal tersebut. Bahkan, Dewi Nuraini merasa telah dipermainkan oleh pihak rumah sakit karena tidak ditangani secara serius.
Menurutnya bibir sumbing yang dialami anak keduanya itu mestinya dilakukan operasi plastik dengan cara penambalan bukan hanya sekedar menjahitnya.
Sementara itu, Anggota komisi D DPRD kabupaten Demak, Susi Alifah mengatakan pihak rumah sakit telah melakukan kesalahan, karena terlalu berani melakukan operasi pada kasus bibir sumbing yang tergolong parah. "Mestinya jika tidak mampu harus merujuk kepada rumah sakit yang lebih lengkap baik peralatan maupun sumber daya manusianya," kata Susi, Rabu (16/3/2011).
Meski zahra menjalani operasi dengan biaya Jamkesda. Namun dia masih dikenakan biaya tambahan obat sebesar Rp141 ribu. Sebagai keluarga miskin, biaya tersebut terlalu berat, karena Sukari, ayah bayi hanya bekerja serabutan yang tak tentu penghasilannya.
Sementara itu, Plt Direktur RSUD Sunan Kalijaga, dr Singgih Setiyono belum dapat dikonfirmasi. Karena berulang kali telepon genggamnya tidak dapat dihubungi.
(Stefanus Yugo Hindarto)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.