tragedi sukhoi

Iskandar SQ: Hormat Bendera Tergantung Niatnya

TB Ardi Januar - Okezone
Selasa, 22 Maret 2011 16:10 wib
ist
ist

JAKARTA – Ketua Majelis Ulama dan Pondok Pesantren se Indonesia, KH Noer Muhammad Iskandar SQ, kurang sependapat jika hormat ke bendera termasuk dalam kategori haram. Sebab, menghormati bendera bukan berarti menyekutukan Tuhan.
 
“Semua itu tergantung niat dan tafsirannya. Kalau kita hormat bendera lalu menangis karena ingat para pejuang leluhur kita, masa itu haram?” kata Nur Iskandar kepada okezone, Selasa (22/3/2011).
 
Menurut dia, bendera adalah simbol pemersatu bangsa dan bukan sarana untuk disucikan. Namun, pada hakikatnya, menghormati bendera adalah wujud menghormati para pejuang yang sudah memerdekakan Indonesia.
 
“Kakbah itu bukan sesuatu yang umat Islam sembah, tetapi hanya menjadi alat pemersatu. Pada hakikatnya kita tetap menyembah kepada Allah SWT. Bendera itu ibarat Kakbah,” tandasnya.
 
Sebelumnya, salah satu ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Ridwan, berpendapat bahwa memberikan hormat kepada bendera adalah tindakan yang tidak diperbolehkan.
 
Dia berpendapat, manusia tidak sewajarnya menghormati sebuah benda, termasuk bendera. Menurut dia, yang seharusnya dihormati adalah orang yang lebih tua dari kita secara usia. Cara menghormati pun harus ditunjukan dengan etika salah satunya memberikan salam.
 
“Saya berpendapat seperti ini karena sudah melakukan diskusi dengan sejumlah guru besar di Timur Tengah. Mereka berpendapat bahwa menghormati bendera itu hukumnya haram,” kata Cholil Ridwan kepada okezone.
 
Namun, Cholil menegaskan, pendapatnya tersebut adalah bersifat pribadi dan tidak membawa lembaga MUI. Sebab, kata dia, MUI belum pernah mengeluarkan fatwa demikian. “Ini hanya pendapat saya pribadi, bukan MUI,” tandasnya.
 

(teb)

  • robert » 0 Tanggapan
    sepakat pak noer, memang pola pikir orang orang yang belejar agamanya dari terjemahan n tidak tau gramatika a**b itu melenceng,sok bener, n merasa paling islam,, enggak tau mana amalan badan dan keyakinan hati,,
    Beri Tanggapan Laporkan
  • budioko » 0 Tanggapan
    salah satu gelar yang diberikan untuk ahlu sunnah dan tauhid agar orang menjauh. He....he....he.... dari dulu hingga kini
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Samaran » 0 Tanggapan
    Maaf pak iskandar, kita disatukan bukan diatas sebuah simbol namun diatas sebuah keyakinan! Apalah guna simbol apabila keyakinan dihati kita berbeda??
    Beri Tanggapan Laporkan
  • ajken » 0 Tanggapan
    kiai pekok... ngrokok'an... berfatwa modalnya niat! guoblog!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • syukran » 0 Tanggapan
    wah,...kyai payah,..lain bendera lain ka'bah dong...hormati wanita,..saking hormatnya malam akad nikah besok dibuang,..abis hajat birahinya kelar ya ga dihormati lagi,..bbegitu ya bos,..kalo komen mbok yaa jangan nodai kesucia agama dong,..mentang2 gelarnya kiai mau seenak bacotnya aja
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.