Ulama se-Jawa & Madura Sebut Profesi Artis Haram?

Ilustrasi casting (Foto: essapamandanan.blogspot.com)

Ulama se-Jawa & Madura Sebut Profesi Artis Haram?
TRENGGALEK- Selain membahas hukum hipnotis dalam tayangan Uya Memang Kuya, acara Bahtsul Masail yang digelar Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se Jawa-Madura di Pondok Pesantren Darussalam Jajar, Desa Sumbergayam, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek  juga mendiskusikan mengenai profesi sebagai artis.

Secara tegas, para santri senior yang berada di Komisi A menghukumi haram. Hal itu jika profesi artis memudahkan seseorang melakukan kemungkaran, termasuk mendorong untuk bersifat takabur.

“Termasuk juga memerankan adegan maksiat, membuka aurat dan terlibat dalam pergaulan bebas,“ tutur perumus Komisi A Said Ridwan kepada wartawan, Kamis (24/3/2011).

Dalam forum diskusi ini santri mengambil contoh kasus program tayangan pencarian bakat. Tarian yang mengundang syahwat, kemudian penampilan yang mengubah kelamin seperti dilakukan salah satu peserta haram untuk ditonton dan dilakukan.

“Untuk peserta itu sama halnya mengubah kodrat sebagai laki-laki menjadi perempuan. Begitu juga berpasangan lain jenis bukan muhrimnya haram hukumnya,“ terang Said.

Kendati demikian, profesi artis tidak sepenuhnya dilarang jika difungsikan sebagai mata pencaharian dan berdakwah. “Honor artis ini juga halal selama peran yang dilakukan tidak melanggar syariat, “paparnya.

Sementara untuk forum santri di Komisi C membahas soal haji yang masuk daftar tunggu hingga tujuh tahun. Diputuskan bahwa seseorang yang daftar pergi haji dikategorikan istitho’ah atau dianggap mampu.

Ukuran mampu disini adalah siap secara materi, kendaraan, dan ruang waktu. Karenanya, jika dalam masa menunggu giliran berangkat si calon haji meninggal dunia, menurut perumus Komisi C Ahmad Fauzi Hamzah, ahli waris yang bersangkutan tidak wajib menggantikanya. “Artinya syarat wajib si calon haji dianggap sudah dipenuhi,“ ujarnya.

Dia menjelaskan, apa yang disepakati dalam forum tersebut bersifat imbauan untuk masyarakat, khususnya umat Islam. “Kita tidak ingin keputusan ini menabrak sesuatu yang sudah ada,“ pungkasnya.

Sebelumnya, Bahtsul Masail yang diselenggarakan di Ponpes Lirboyo Kediri pernah membahas tentang hukum jejaring sosial (facebook), rebonding (pelurusan rambut). (kem)

berita terkait

foto & video lainnya

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Bebas Kebakaran Hutan, Desa di Riau Diberi Rp100 Juta